Ringkasan Berita:
- Edelweiss menjadi daya tarik baru wisatawan di Bromo selain sunrise.
- Bunga abadi itu dipercaya melambangkan cinta dan kesetiaan.
- Taman edelweiss di Cemoro Lawang ramai dikunjungi pasangan dan keluarga.
- Legenda Roro Anteng dan Joko Seger memperkuat nuansa romantis Bromo.
Probolinggo (beritajatim.com) – Udara dingin perlahan merayap di sela jaket para wisatawan saat malam mulai menyingkir dari kawasan Gunung Bromo. Kabut tipis menggantung rendah di atas lautan pasir. Dari kejauhan, garis jingga mulai pecah di balik pegunungan Tengger, menandai datangnya pagi.
Di salah satu sudut pandang matahari terbit, puluhan orang berdiri diam menatap horizon timur. Sebagian sibuk mengabadikan momen lewat kamera ponsel, sebagian lainnya memilih menikmati suasana tanpa banyak bicara.
Bromo memang selalu punya cara membuat orang jatuh hati.
Namun long weekend kali ini, bukan hanya sunrise yang diburu wisatawan. Ada satu pesona lain yang diam-diam mulai mencuri perhatian: bunga edelweiss.
Bunga kecil berwarna putih kekuningan itu tumbuh anggun di dataran tinggi. Kelopaknya tampak sederhana, tetapi maknanya begitu dalam. Banyak orang percaya, edelweiss adalah simbol cinta yang abadi, kesetiaan, dan hubungan yang tidak mudah layu dimakan waktu.
Mungkin itu sebabnya suasana romantis begitu terasa di Bromo beberapa hari terakhir.
Pasangan muda terlihat berjalan berdampingan menyusuri taman bunga. Ada yang menikmati secangkir kopi hangat sambil bersandar di kursi kayu, ada pula yang sibuk mencari sudut terbaik untuk berfoto dengan latar pegunungan dan hamparan edelweiss.
Kabut yang turun perlahan membuat suasana semakin syahdu.
“Penasaran dengan bunga edelweiss karena katanya melambangkan keabadian. Semoga hubungan kami juga bisa langgeng,” ujar Susi, wisatawan asal Jakarta yang datang bersama pasangannya, Indra, Sabtu (16/5/2026).
Bagi masyarakat Tengger, edelweiss bukan sekadar tanaman liar pegunungan.
Bunga yang sering dijuluki “bunga abadi” itu memiliki hubungan erat dengan legenda cinta Roro Anteng dan Joko Seger, pasangan leluhur Suku Tengger yang kisahnya hidup turun-temurun di sekitar Bromo.
Legenda itu menjadi bagian penting dari identitas masyarakat pegunungan. Dari sanalah, edelweiss perlahan dipercaya sebagai lambang cinta yang tetap hidup meski diterpa waktu dan perubahan zaman.
Kini, wisatawan tidak perlu mendaki terlalu jauh untuk menikmati pesona bunga abadi tersebut.
Di kawasan Cemoro Lawang, taman edelweiss di area Apsara Cafe and Resto menjadi salah satu titik yang ramai dikunjungi.
Hamparan bunga yang tertata rapi berpadu dengan latar pegunungan membuat tempat itu dipenuhi wisatawan sejak pagi hingga sore hari.
Sebagian datang untuk berburu foto, sebagian lagi sekadar duduk menikmati suasana.
Namun taman ini tidak hanya menawarkan keindahan visual.
Di beberapa sudut area, pengunjung juga bisa melihat proses budidaya edelweiss sebagai bagian dari upaya konservasi agar bunga khas pegunungan itu tetap lestari dan tidak rusak akibat eksploitasi wisata.
Anak-anak tampak berlarian di area terbuka, sementara orang tua menikmati hidangan hangat dengan panorama pegunungan Tengger yang membentang luas.
“Sekalian mengenang masa pacaran dulu. Sekarang ada tempat baru seperti taman Apsara ini, jadi bisa menikmati kuliner sambil melihat taman bunga edelweiss,” kata Nina, wisatawan asal Gresik yang datang bersama suaminya, Ilham.
Perlahan, wajah wisata Bromo mulai berubah.
Jika dulu wisatawan identik dengan berburu sunrise dan lautan pasir, kini pengalaman emosional dan suasana romantis mulai menjadi bagian dari daya tarik kawasan pegunungan itu.
Di tengah dinginnya kabut Bromo, edelweiss tumbuh tanpa banyak suara. Kecil, tenang, namun penuh makna.
Seperti cinta yang ingin terus dijaga agar tak pernah layu. [rap/beq]






