Bondowoso (beritajatim.com) – Langkah-langkah itu datang perlahan, seolah waktu ikut menyesuaikan diri. Di Aula Arabica Homestay, Kecamatan Sempol, Bondowoso, Selasa siang (17/3/2026), sejumlah lansia memasuki ruangan dengan tubuh yang tak lagi tegap. Ada yang digandeng, ada yang dituntun, bahkan ada yang digendong.
Pemandangan itu terasa janggal—bukan karena asing, melainkan karena jarang terlihat dalam ruang yang biasanya identik dengan agenda korporasi. Siang itu, logika bisnis seperti diminta menepi sejenak. Yang mengambil alih adalah sesuatu yang lebih sederhana: kepedulian.
PTPN I Regional 5 menggelar santunan bagi warga jompo dan anak yatim. Total 212 penerima manfaat tercatat, terdiri dari 165 lansia dan 47 anak yatim. Sekitar 25 orang dihadirkan sebagai perwakilan dari enam desa di Kecamatan Sempol, sementara sisanya tetap menerima bantuan secara merata di wilayah masing-masing.
Sejak pagi, kendaraan bermotor disiapkan untuk menjemput para lansia dari rumah mereka. Mereka tidak sekadar diundang, tetapi benar-benar dihadirkan—dengan segala keterbatasan yang menyertai usia.
Manajer Kebun Blawan PTPN I Regional 5, Bambang Trianto, mengatakan seluruh desa sengaja dilibatkan agar tidak ada kesenjangan dalam penyaluran bantuan.
“Orientasi kami bukan hanya usaha ekonomi atau profit, tapi juga sosial. Kami ingin hadir dan peduli terhadap masyarakat,” ujarnya.
Paket bantuan yang dibagikan berisi kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, kopi, hingga mi instan. Bukan sesuatu yang mewah, tetapi justru itu yang paling dibutuhkan—terutama menjelang hari raya, ketika kebutuhan meningkat sementara penghasilan tidak selalu tersedia.
Di salah satu sudut ruangan, Suwinah duduk dengan tubuh yang tak lagi leluasa bergerak. Warga Dusun Kampung Baru, Desa Jampit itu telah dua tahun berhenti bekerja setelah mengalami luka bakar serius.
Peristiwa itu bermula dari rutinitas sederhana. Seusai salat asar, ia hendak membuat kopi. Namun langkahnya tergelincir. Air panas yang sedang dimasak tumpah dan mengenai tubuhnya. Luka itu tak hanya meninggalkan bekas di kulit, tetapi juga rasa sakit berkepanjangan di bagian pinggul.
Sejak saat itu, hidupnya berubah. Aktivitasnya terbatas, penghasilan terhenti.
Bantuan yang ia terima siang itu mungkin tidak menyelesaikan seluruh persoalan. Namun setidaknya, ada jeda dari beban yang terus berjalan. Ada pengakuan bahwa dirinya masih diperhatikan.
“Terima kasih. Semoga diganti dengan rezeki yang lebih besar,” ucapnya lirih, diterjemahkan dari bahasa Madura.
Di luar aula, kendaraan yang sebelumnya menjemput para lansia kembali bersiap mengantar mereka pulang. Satu per satu dibantu naik, dipastikan aman hingga kembali ke rumah masing-masing.
Apa yang terjadi di Sempol siang itu mungkin sederhana. Tanpa panggung besar, tanpa gemuruh. Namun justru di situlah letak maknanya—di tengah dunia usaha yang kerap diukur dengan angka dan capaian, ada ruang yang tak kalah penting: merawat yang rapuh, menjaga yang tertinggal, dan memastikan bahwa kemajuan tidak berjalan sendirian. [awi/beq]






