Pasuruan (beritajatim.com) – Ngadiwono di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, adalah desa dengan potret toleransi yang indah. Tak jarang, para warga dengan latar belakang agama berbeda bersatu dalam kebersamaan.
Potret tersebut terlihat dari sejumlah upacara adat. Meski mayoritas warga adalah penganut Hindu, bukan pemandangan langka penganut Islam dan Kristen turut serta dalam upacara tersebut.
Warga Ngadiwono kerap menggelar upacara adat Entas-Entas. Para warga pun bergotong royong melaksanakan upacara ini, mulai persiapan hingga berakhir.
Kepala Desa Ngadiwono, Atim Priyono menjelaskan, Entas-entas adalah upacara adat untuk menyucikan orang sudah meninggal. Warga Ngadiwono terbiasa memanfaatkan momen tersebut sebagai sarana untuk bersilaturahmi.
Biasanya, upacara ini digelar selama tiga hari berturut-turut setelah ketika ada warga yang meninggal.
“Hari pertama itu biasanya memanggil roh leluhur dan hari terakhir akan dilakukan simbolis pembakaran roh dengan boneka. Puncaknya ya di hari ketiga itu, nanti yang datang bisa sampai ratusan orang bahkan sampai ribuan,” kata Atim.
[berita-terkait number=”1″ tag=”Ngadiwono”]
Warga juga kerap bergotong royong saat ada upacara pernikahan, baik saat akad nikah dan temu manten. Hal yang sama juga terjadi saat pelaksanaan Wonogoro, upacara pembersihan untuk jabang bayi.
Hal ini dijelaskan oleh Romo Dukun Pandita Puja Pramana saat ditemui di kediamannya. Menurut Puja, hal ini dilakukan guna menghindari jatuhnya darah sebelum perempuan hamil.
“Karena menurut kepercayaan leluhur kami, tanah desa merupakan tanah suci. Jadi sebelum darah dari si jabang bayi jatuh ke tanah, kita akan sucikan dulu, dengan upacara Wonogoro,” ujar Puja yang sudah menjabat sebagai tetua adat selama 10 tahun.
Beritajatim.com berkesempatan mewawancarai orang yang menyelenggarakan dua upacara adat secara bersamaan. Orang tersebut bernama Priyanto.
Priyanto mengatakan, kali ini dia melaksanakan upacara pernikahan dan pembersihan secara bersamaan. Dalam upacara ini semua keluarga besar datang dan ikut merayakannya, tak terkecuali keluarga yang memeluk agama Islam.
“Semua keluarga datang untuk ikut merayakan upacara adat saat ini. Semuanya akan mengisi beras kedalam 17 bambu yang menyimbolkan dari leluhur yang sudah mendahului,” jelasnya. [ada/beq]






