Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemerintah Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi resmi mengembangkan peternakan ayam petelur sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan pangan sekaligus menekan angka stunting. Program inovatif ini mengintegrasikan kemandirian ekonomi desa dengan pemenuhan gizi bagi kelompok masyarakat rentan seperti lansia, ibu hamil, dan balita.
Kegiatan peternakan yang mulai berjalan pada Desember 2025 ini memanfaatkan alokasi anggaran dana desa untuk membangun fasilitas kandang yang representatif. Fasilitas kandang berukuran 30 x 4 meter tersebut kini telah dihuni oleh sedikitnya 1.100 ekor ayam petelur yang produktif setiap harinya.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, memberikan apresiasi tinggi saat meninjau langsung lokasi usaha ekonomi produktif tersebut di sela kegiatannya. Menurutnya, inovasi yang dilakukan Desa Alasbuluh memberikan manfaat ganda bagi perputaran ekonomi dan kesejahteraan warga secara langsung.
“Kalau desa punya usaha seperti ini, manfaatnya bisa ganda. Ekonomi bergerak, warga terlibat bekerja, dan hasilnya juga bisa kembali untuk membantu masyarakat,” kata Ipuk.
Ipuk menambahkan bahwa program penguatan pangan di level desa perlu terus didorong untuk menciptakan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Langkah ini dinilai sangat efektif dalam mendukung pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi masyarakat di wilayah pelosok.
“Telur merupakan sumber protein yang baik. Jika dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk masyarakat, dampaknya besar, termasuk upaya pengentasan kemiskinan warganya,” tuturnya.
Pendamping Desa Alasbuluh, Eko Mulyono, menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari musyawarah desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Forum tersebut menyepakati pembentukan usaha bersama yang dikelola secara profesional melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Pembangunan fasilitas kandang dimulai sejak Oktober dan berhasil dirampungkan dalam waktu dua bulan sebelum operasional pengisian bibit dimulai. Total modal awal yang dikucurkan mencapai sekitar Rp300 juta untuk pengadaan sarana fisik dan populasi ayam petelur.
“Pada awal produksi jumlahnya masih sedikit, hanya belasan butir setiap hari. Namun sekarang terus bertambah dan sudah mampu menghasilkan sekitar satu krat telur atau setara kurang lebih 15 kilogram,” terang Eko.
Hasil panen telur tersebut kini mulai dipasarkan secara luas di sekitar area desa hingga merambah pasar di wilayah Kecamatan Wongsorejo. Selain untuk mengejar profit ekonomi, sebagian hasil produksi dialokasikan secara khusus untuk mendukung berbagai kegiatan sosial masyarakat.
Salah satu implementasi nyata dari program ini adalah distribusi telur gratis dalam kegiatan rutin posyandu di tingkat desa. Setiap sasaran yang hadir mendapatkan tambahan asupan gizi untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak mereka secara optimal.
“Itu setiap bulan kita bagikan gratis, setiap sasaran dapat 10 telur. Harapannya ini dapat membantu pemenuhan nutrisi keluarga sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting di desa Alasbuluh,” pungkasnya. [alr/beq]






