Surabaya (beritajatim.com) – Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa dan memiliki fungsi sebagai dasar negara Indonesia.
Namun, tidak semua orang bisa menyebutkan 5 sila yang ada dalam Pancasila secara tepat dan benar. Hal ini bisa terjadi pada cendekiawan, pejabat maupun tokoh di tanah air.
Meski demikian, ada berbagai faktor yang memicu hal tersebut. Bisa jadi karena lupa, gugup, salah baca atau memang tidak menghafalnya dengan baik.
Berikut ini, deretan tokoh dan pejabat yang tidak bisa menyebutkan Pancasila dengan tepat.
1. Gubernur Riau Wan Abubakar
Gubernur Riau Wan Abubakar merupakan salah satu pejabat yang khilaf dalam membaca Pancasila. Peristiwa tersebut terjadi saat upacara peringatan Hari Pahlawan 2008 di halaman kantor gubernur.
Saat itu, Wan Abubakar sedang memimpin upacara. Namun, dia lupa membaca sila kelima dari teks Pancasila. Dia menyerahkan teks Pancasila yang dipegangnya setelah membacakan sila keempat.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pancasila”]
2. Bupati Magetan Sumantri
Saat upacara peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-67 Kemenag, Bupati Magetan Sumantri menjadi perhatian publik karena tidak bisa menyebutkan sila kedua dalam Pancasila dengan benar.
Pada kesempatan itu, Bupati Sumantri menjadi inspektur upacara di mana dia berkewajiban mengucapkan Pancasila untuk diikuti para peserta.
Usai menyebutkan sila pertama dengan baik. Dia mengucapkan sila kedua dengan “Persatuan Indonesia.”
Mendengar hal tersebut, para peserta upacara pun tertawa dan beberapa menyadari kekeliruan tersebut sehingga mengoreksi kesalahan Bupati.
3. Calon Wakil Bupati di Pilkada Soppeng
Kasus tidak hafal Pancasila terjadi dalam debat terakhir Pilkada Soppeng pada Juni 2010. Dari 7 calon wakil Bupati (Cawabup), hanya satu yang hafal Pancasila, yaitu cawabup Supriansa dari pasangan Sulham Hasan- Supriansa (SULAPA).
Saat diminta untuk menyebutkan Pancasila satu per satu, Cawabup lainnya tidak bisa menjawab dengan tepat.
4. Calon Hakim Konstitusi Djafar Albram
Kasus lainnya terjadi saat seleksi Hakim Konstitusi di DPR. Salah satu calon Hakim Konstitusi, Djafar Albram tidak bisa menyebutkan Pancasila dengan sempurna.
Awalnya, Komisi III dari Fraksi PDI Perjuangan Achmad Basarah menginstruksikan Djafar untuk menyebutkan sila keempat dari Pancasila. Namun, Djafar justru menyebutkan satu per satu sila yang ada dalam Pancasila dari awal.
“Yang pertama, Ketuhanan yang maha Esa, kedua Perikemanusiaan yang adil dan beradab, ketiga Persatuan Indonesia, keempat Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan keadilan, lima Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” jawab Djafar.
Dari jawaban itu, Djafar salah menyebutkan sila kedua dan keempat. Alhasil, pada pemilihan calon hakim MK, Djafar hanya mendapatkan 1 suara dalam voting.
5. Kalista Iskandar
Hal serupa juga terjadi pada finalis Puteri Indonesia dari Sumatera Barat, Kalista Iskandar. Kejadian itu terjadi saat Grand Final ajang Pemilihan Puteri Indonesia 2020. Ajang bergengsi itu disiarkan secara langsung di SCTV.
Awalnya, Ketua MPR Bambang Soesatyo melayangkan pertanyaan apakah Kalista hafal lima sila yang terkandung dalam Pancasila.
Kalista pun mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Namun, pada sila keempat dan kelima, Kalista tidak bisa melafalkannya dengan tepat.
Akibat dari peristiwa itu, Kalista pun menjadi sorotan publik hingga memberikan klarifikasi lewat akun Instagram-nya @kalistaiskandar. Dia memberikan penjelasan dalam bahasa Inggris lewat fitur Instastory.
“The biggest thing to take from tonight is that it’s okay to be nervous as long as you continue to hold your head up high and stay proud of you are (Pelajaran terbesar yang dapat diambil dari malam ini adalah tidak apa-apa untuk gugup selama kamu terus mengangkat kepalamu dan tetap bangga pada dirimu,” tulisnya.
6. Ketua DPRD Lumajang Anang Akhmad Syaifuddin
Baru-baru ini, tengah viral video Ketua DPRD Lumajang, Anang Akhmad Syaifuddin yang salah menyebutkan Pancasila ketika memimpin pembacaan Pancasila.
Video tersebut diunggah di berbagai media sosial, salah satunya akun Instagram @info.okutimur.
Peristiwa ini terjadi saat Anang menghadiri acara bersama Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) yang dihadiri oleh sejumlah mahasiswa. Sayangnya, saat menyebutkan sila keempat, Anang keliru membacanya.
“Empat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan dan permusyawaratan,” ucap Anang.
Mendengar hal tersebut, mahasiswa yang hadir merespon dengan sorakan dan berteriak bahwa sila keempat yang dibaca Anang salah. (nap)






