Ringkasan Berita:
- Ratusan mahasiswa UINSA Surabaya kembali menggelar demonstrasi dan menyegel gerbang kampus di Jalan Ahmad Yani.
- Mahasiswa menilai pihak rektorat mengabaikan protes dan tuntutan yang sebelumnya disampaikan.
- Massa membawa delapan tuntutan, termasuk meminta Rektor UINSA Akh Muzakki mundur atau diberhentikan secara tidak hormat.
- Aktivitas akademik disebut tidak lumpuh total karena akses keluar-masuk masih dapat menggunakan pintu selatan dan pintu belakang kampus.
Surabaya (beritajatim.com) – Gelombang demonstrasi mahasiswa yang menuntut Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mundur terus berlanjut. Ratusan mahasiswa kini memblokir dan menyegel gerbang kampus UINSA di Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Senin (21/9/2026).
Wakil Presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UINSA, Fadlurrakhman Fazle Purwardana, mengatakan aksi tersebut merupakan lanjutan dari demonstrasi sebelumnya. Eskalasi aksi ditingkatkan karena mahasiswa menilai pihak rektorat belum merespons protes dan tuntutan mereka.
“Sebenarnya ini aksi lanjutan dari kemarin. Kita tetap meningkatkan eskalasi dan menjaga esensi protes ini bertahan,” ujar Fadlurrakhman, Senin (21/9/2026).
Sebelum menutup gerbang kampus, sebagian demonstran memilih menginap di dalam area kampus sejak malam. Puncak kekesalan terjadi pada Senin pagi ketika massa mulai merantai dan menutup rapat pintu masuk utama kampus.
“Penyegelan ini menjadi bukti kemuakan teman-teman. Kekecewaan dan harapan agar semua tuntutan dipenuhi sekarang menjadi lebih nyata,” tegasnya.
Meski gerbang depan ditutup, aktivitas akademik di lingkungan UINSA Surabaya tidak lumpuh total. Akses keluar-masuk kampus dialihkan melalui pintu keluar sisi selatan dan pintu belakang.
“Kita tidak melumpuhkan operasional kampus secara utuh. Masih ada pintu belakang di area gang dosen yang bisa diakses oleh semua orang,” tambah Fadlurrakhman.
Dalam aksi kali ini, massa kembali membawa delapan poin tuntutan. Salah satu tuntutan utama mahasiswa adalah meminta Rektor UINSA Akh Muzakki segera mengundurkan diri atau diberhentikan secara tidak hormat.
Mahasiswa juga meminta pihak rektorat memberantas praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme di lingkungan kampus.
Tuntutan lainnya berkaitan dengan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT). Mahasiswa meminta adanya perbaikan sistem UKT serta pemenuhan hak mahasiswa baru yang sebelumnya disebut sempat tertunda.
Demonstran turut meminta evaluasi terhadap fasilitas kampus serta perbaikan tata kelola keterbukaan informasi publik. Evaluasi kuota penerimaan mahasiswa baru juga menjadi bagian dari tuntutan yang dibawa massa.
Selain itu, mahasiswa meminta aturan mengenai jam malam di lingkungan kampus dicabut. Seluruh tuntutan tersebut menjadi bagian dari delapan poin yang kembali disuarakan mahasiswa dalam aksi lanjutan di UINSA Surabaya. [ipl/beq]






