Lumajang (beritajatim.com) – Sebuah warung makan di tepi Jembatan Gladak Perak atau Besuk Kobokan, Pronojiwo-Candipuro, Kabupaten Lumajang, dibongkar, Jumat (17/12/2021) pagi ini.
Pembongkaran ini sesuai dengan rencana pemerintah setempat karena dititik warung tersebut, bakal digunakan sebagai jembatan Gantung.
Menurut Hori (53), pemilik warung makan yang tinggal di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, mengatakan warung miliknya sudah berdiri sejak 18 tahun lalu. Hori mengaku ikhlas warung miliknya dibongkar sendiri meski tidak ada ganti rugi dari pemerintah.
“Gak apa-apa kami bongkar sendiri. Untuk kepentingan masyarakat umum, saya siap warung saya ini dibongkar,” ungkap Hori, Jumat (17/12/2021) pagi saat melakukan pembongkaran warung dan gazebo miliknya.
Selain membuka usaha warung makan, Hori diketahui juga seorang relawan siaga bencana yang mangkal di kawasan Gladak Perak. Aktivitas itu ia lakoni cukup lama. Beberapa peristiwa bencana yang ia ketahui dikawasan hutan hingga jembatan Gladak Perak, Pronojiwo, biasanya ia laporkan langsung pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Kabupaten Lumajang.
“Biasanya kami membantu BPBD dan Kepolisian setempat untuk melaporkan apabila ada kejadian bencana seperti tanah longsor. Karena tebing di Gladak Perak ini kan rawan longsor. Termasuk waktu jembatan Gladak Perak ini putus saya yang informasikan pertama kali ke BPBD Lumajang. Karena saat itu saya ada di warung tepi jembatan yang putus ini,” paparnya.

Kata Hori, saat erupsi Semeru, ia bersama adik dan anaknya sedang menjaga warung makan. “Saat itu ada 6 pengunjung, sedang ngopi. Tiba-tiba awan panas dan abu turun. Saya minta seluruh orang yang ada di warung keluar dan naik ke atas jalan. Kemudian sembunyi di warung yang ada di atas,” kenang Hori.
Ketika itu suasana cukup mencekam. Hori mengenang, situasi di jalan raya menuju Gladak Perak sudah gela gulita. Hori bertahan di dalam warung milik warga Supiturang. Ia juga meminta orang-orang yang berhasil diselamatkan, untuk banyak minum air putih.
“Ada 10 orang waktu itu dalam penguasaan saya. Saya coba selamatkan mereka, saya suruh banyak minum air diwarung karena mulut dan tenggorokan sudah penuh dengan abu vulkanik,” tuturnya.
Dari kejadian itu, lanjut Hori, 2 orang pemilik warung sepanjang jalan raya Pronojiwo disekitar kawasan Gladak Perak meninggal dunia. “Karena panik, dua orang nekat keluar dari warung bermaksud lari. Tapi kan diluar awan panas menerjang. Sehingga tidak bisa diselamatkan, meninggal. Sementara ada yang sembunyi di kamar mandi, selamat. Karena terus mengguyur tubuhnya dengan air,” ujar Hori.
[berita-terkait number=”4″ tag=”erupsi-gunung-semeru”]
Hori menambahkan, warung makan miliknya meski masih utuh, seluruh perabot di dalamnya tertimbun abu vulkanik. Hori mengaku rela membongkar warung miliknya untuk pembuatan jembatan gantung demi mempercepat akses pembangunan dan kelancaran lalu lintas dari Malang ke Lumajang.
“Demi kepentingan umum yang lebih luas, gak apa-apa warung saya dibongkar. Karena disini nanti mungkin akan banyak material bangunan untuk jembatan gantung juga,” Hori mengakhiri. (yog/ted)






