Jombang (beritajatim.com) – Kampus Alam DeDurian Park Wonosalam Jombang, Jawa Timur meluncurkan program ‘Ngangon Domba’. Program ini untuk mengubah posisi Mustahik (orang yang berhak menerima zakat) menjadi muzakki (orang muslim yang memiliki harta dan diwajibkan berzakat).
Dalam program tersebut, Kampus Alam DeDurian Park menggandeng Pondok Pesantren (Ponpes) Fathul Ulum Jombang. Demikian diungkapkan CEO DeDurian Park, Yusron Aminulloh, Senin (25/4/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”dedurian-park”]
“Banyak santri senior ketika pulang dari pesantren tidak punya keterampilan dan sikap wirausahawan. Bagi yang memiliki orangtua cukup, masih bisa ikut orangtuanya. Bagaimana yang yatim dan dhuafa? Karena itulah program ini diluncurkan,” terang Yusron.
Yusron menceritakan bahwa dirinya sering silaturahmi dengan pengasuh Ponpes Fathul Ulum KH Ahmad Habibul Amin atau Gus Amin. Dalam diskusi tersebut, Gus Amin memiliki pandangan yang sama. “Maka lahirlah Program Ngangon Domba ini,” tambah Yusron yang juga Ketua Departemen Bisnis, UMKM dan Pedesaan ICMI Jatim.
Bahkan, tegas Yusron, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawnsa seringkal menyuarakan konsep jihad melawan kemiskinan. “Maka program ini menjadi salah satu langkah, disamping banyak lembaga dan pesantren melakukan langkah mulia lain,” tambahnya.
‘Ngangon Domba’ adalah program kerjasama DeDurian Park dengan para member yang berinvestasi untuk mendukung para santri. Mereka satu kelompok dibiyai Rp 73 juta untuk memelihara 40 domba. Mulai kandang, menanam rumput/pakan, mengolah hingga menjual.

Santri Pondok Pesantren (Ponpes) Fathul Ulum Jombang
“Tahap awal ini baru dibuka 10 paket. Jadi 10 kelompok santri yang menangani. Mereka bukan karyawan, tetapi pengelola yang akan mendapat hasil sejajar dengan investor. Jadi ini bukan bantuan, tapi modal yang harus untung. Untuk admin dan manajemen dibantu tim DeDurian Park yang sudah pengalaman,” kata Gus Amien, menambahkan.
Gus Amien juga mengutip nasihat Gubernur Jatim Khofifah, yakni agar para santri terus meningkatkan kualitas manajemen skill dan daya enterprenurnya. Sehingga siap menghadapi perkembangan ekonomi saat ini dan siap memberikan dedikasinya kepada masyarakat.
“Untuk itulah program ini digagas. Ada dua tujuan. Pertama, melatih santri menjadi mandiri. Kedua, bagi santri yatim dan dhuafa, dilatih menjadi muzakki, agar tidak terus menjadi mustahik,” pungkas pengasuh Ponpes yang berambut gondrong ini. [suf]






