Surabaya (beritajatim.com) – Macassar, demikianlah kawasan yang dekat dengan Cape Town, ibu kota legislatif Afrika Selatan, dikenal. Pelafalannya sama dengan penyebutan nama kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar. Dan memang begitulah adanya.
Meski dua kawasan ini terletak di negara, bahkan benua yang berbeda, ada titik yang membuat keduanya tersambung. Ia adalah Syekh Yusuf al-Makassari, ulama kelahiran Tallo, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626, yang karena keberanian dan keteguhannya melawan VOC, terpaksa terbuang dari tanah kelahirannya.
Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makassari tidak datang jauh-jauh dari Nusantara ke Afrika untuk mengelana. Ia menginjakkan kaki di Benua Hitam itu sebagai orang buangan. Penguasa VOC menganggap keberadaan Syekh Yusuf sebagai ancaman lantaran pengaruhnya yang sangat besar.
Kekhawatiran itu berkaitan dengan keterlibatan Syekh Yusuf dalam jaringan perjuangan Nusantara setelah ia berada di lingkungan Kesultanan Banten dan mendukung perlawanan terhadap VOC. Penguasa kolonial berusaha menjauhkannya dari pusat-pusat perlawanan dengan menangkap dan mengasingkannya ke negeri yang jauh dari tanah kelahirannya.
Namun, pengasingan tidak serta-merta menghapus pengaruh Syekh Yusuf. Di Nusantara, ia dikenang karena perlawanan terhadap kolonialisme. Di tempat pengasingannya, namanya menjadi bagian dari sejarah komunitas Muslim Afrika Selatan. Nama Macassar sendiri merujuk pada asal-usulnya dari Makassar.
Kisah tentang perjalanan ilmu, perlawanan, dan warisan pemikiran ulama tersebut kembali dibicarakan dalam forum Temu Narasi bertajuk “Refleksi 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari: Perkokoh Kebinekaan, Menginspirasi Zaman”. Kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Promosi Kebudayaan itu berlangsung di Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Mojokerto, Rabu (16/9/2026).
Forum tersebut menghadirkan peneliti naskah kuno K.H. Ahmad Kholili Kholil atau Gus Kholili dari Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Kabupaten Pasuruan, serta Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban, M.Hum., peneliti sejarah Islam Nusantara dari Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta. Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M.Hum., sejarawan dan filolog dari UIN Jakarta, juga menyampaikan pandangan mengenai ajaran tasawuf Syekh Yusuf.
Pembahasan mereka membawa kisah Syekh Yusuf melampaui riwayat pengasingan. Ada perjalanan intelektual, jaringan ulama lintas wilayah, pemikiran tentang kemanusiaan, hingga sebuah manuskrip dari Karanggayam, Mojokerto, yang disebut memiliki hubungan sanad dengan Syekh Yusuf.
Pengelana di Samudra Pengetahuan
Perjalanan Syekh Yusuf dalam menimba pengetahuan tak bisa dipandang sambil lalu. Sejak muda, ia terbiasa bepergian ke berbagai wilayah untuk belajar. Jejak pengembaraannya terhampar dari Gowa, Banten, Aceh, Surat, Zabid, Makkah, Jeddah, Madinah, Damaskus, Aleppo, Yerusalem, hingga Lahore.
Khusus di Arab, ia menghabiskan sekitar dua dekade untuk berguru kepada sejumlah ulama kenamaan, salah satunya Syekh Ibrahim al-Kurani di Madinah. Syekh Ibrahim al-Kurani juga dikenal sebagai guru Syekh Abdur Rauf al-Sinkili.
Menurut paparan Gus Kholili dalam Temu Narasi, keluasan perjalanan Syekh Yusuf berjalan beriringan dengan ketekunannya mempelajari ilmu agama. Ia tidak hanya mendatangi pusat-pusat keilmuan, tetapi juga membangun hubungan dengan para ulama yang ditemuinya.
Pengetahuan dan spiritualitasnya bahkan disebut menarik perhatian ulama dari Hadramaut yang berguru kepadanya. Dalam jaringan keilmuan Islam pada masa itu, hubungan tersebut memperlihatkan bahwa ulama Nusantara juga dapat menjadi rujukan bagi ulama dari wilayah lain.
Sekembalinya ke Nusantara, Syekh Yusuf menetap di lingkungan Kesultanan Banten. Di sana, ia menjalankan beberapa peran sekaligus: ulama, pengelana ilmu, penulis, serta aristokrat dan diplomat yang dipercaya menangani korespondensi antara Kesultanan Banten dan kerajaan-kerajaan mancanegara.
Syekh Yusuf disebut menghasilkan tak kurang dari 32 kitab. Karya-karya tersebut menjadi bagian dari warisan intelektualnya yang kini tersebar di berbagai koleksi manuskrip dunia.
Perjalanan Syekh Yusuf bukan sekadar perpindahan geografis. Ia berguru kepada banyak ulama, menyerap pengetahuan dari berbagai tempat, lalu mengajarkannya kepada murid dan para pengikutnya.
Tasawuf Progresif: Anti-Kezaliman dan Etos Aksi
Ketokohan Syekh Yusuf memperlihatkan bahwa jalan tasawuf tidak selalu berarti menjauh dari kehidupan duniawi. Dalam perjalanan hidupnya, ajaran spiritual justru berjalan beriringan dengan keterlibatannya dalam persoalan sosial dan politik.
Dalam forum Temu Narasi, Gus Kholili membahas hubungan antara tasawuf dan perlawanan Syekh Yusuf terhadap kolonialisme. Menurutnya, sikap sang ulama berakar pada pandangan tasawuf yang menolak segala bentuk penindasan.
“Bertasawuf itu adalah anti kezaliman, apa pun kezaliman itu. Bukan spesifik anti kolonial atau anti orang asing,” tegas Gus Kholili.
Pandangan tersebut menempatkan perlawanan Syekh Yusuf dalam kerangka yang lebih luas daripada pertentangan antara penduduk Nusantara dan bangsa Eropa. Yang ditolak adalah kezaliman itu sendiri, siapa pun pelakunya.

Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M.Hum., sejarawan dan filolog dari UIN Jakarta, juga menyoroti hubungan antara tasawuf dan perilaku sosial dalam pemikiran Syekh Yusuf.
“Selain membahas gagasan Akbarian Ibn ‘Arabi, Syekh Yusuf al-Makassari juga menekankan bahwa buah ajaran tasawuf itu berakhlak mulia (husn al-khuluq) kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan agama,” tutur Prof. Oman, yang juga pengampu Ngariksa (Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara) ini.
Oman kemudian menjelaskan prinsip-prinsip yang ditekankan Syekh Yusuf dalam hubungan antarmanusia.
“Syekh Yusuf menekankan pentingnya berbuat adil, memuliakan tamu (ikram al-dhaif) walau tamu itu non-Muslim, membawa kenyamanan bagi orang lain (ishal al-rahah ila al-nas), serta membahagiakan hati sesama saudara (idkhal al-surur fi qulub al-ikhwan),” kata Oman.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa tasawuf dalam pandangan Syekh Yusuf tidak berhenti pada urusan spiritual pribadi. Ajarannya juga berkaitan dengan cara seseorang memperlakukan orang lain, termasuk mereka yang berbeda agama.
Prinsip moral itu berjalan beriringan dengan keterlibatan Syekh Yusuf dalam perlawanan terhadap VOC. Pada 1683, ia berada di pihak Sultan Ageng Tirtayasa dalam konflik Kesultanan Banten dengan Belanda. Ia juga terlibat dalam perlawanan bersenjata bersama para pengikutnya, termasuk Pangeran Purbaya, di wilayah Jawa Barat.
Perlawanan Syekh Yusuf terhadap Kolonialisme
Syekh Yusuf sempat tinggal di Banten dan memberikan pengajaran kepada putra mahkota, Sultan Abun Nasr Abdul Qahhar atau Sultan Haji. Ketika VOC ikut campur dalam konflik Kesultanan Banten, Syekh Yusuf memilih mendukung ayah Sultan Haji, yakni Sultan Ageng Tirtayasa.
Keterlibatannya dalam perlawanan membuat Syekh Yusuf menjadi salah satu tokoh yang diburu penguasa kolonial. Ia memimpin gerilya bersama pengikutnya, yang sebagian besar disebut berasal dari Makassar. Setelah dikejar pasukan Belanda di wilayah pegunungan Jawa Barat, ia dan pasukannya akhirnya tertangkap.
Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (2015) menyebut Syekh Yusuf sebagai mujahid penentang Belanda sekaligus penyebar Tarekat Khalwatiyah.
Syekh Yusuf kemudian diasingkan ke Ceylon, Sri Lanka, pada 1684. Pengasingan tersebut dimaksudkan untuk menjauhkannya dari pusat perlawanan di Nusantara. Namun, hubungan dengan para jemaah haji, pedagang, dan ulama dari berbagai wilayah masih berlanjut.
Dalam paparannya, Gus Kholili menjelaskan bahwa perlawanan Syekh Yusuf tidak membuat pengaruhnya berakhir ketika ia ditangkap. Ia tetap menjalankan dakwah dan menjaga hubungan dengan para pengikutnya selama berada di pengasingan.
Perjalanan hidup Syekh Yusuf, dengan demikian, memperlihatkan hubungan antara keyakinan, pengetahuan, dan sikap terhadap kekuasaan. Ia bukan hanya seorang ulama yang menekuni tasawuf, tetapi juga tokoh yang terlibat langsung dalam perlawanan terhadap kolonialisme.
Peta Pengasingan dan Jejak yang Melintasi Benua
Pengasingan ke Ceylon tidak sepenuhnya memutus hubungan Syekh Yusuf dengan Nusantara. Para jemaah haji dan pedagang yang singgah di Sri Lanka masih menemuinya. Mereka membawa pulang karya-karya Syekh Yusuf serta karya ulama Nusantara lainnya, seperti Syekh Nuruddin al-Raniri dan Syekh Abdur Rauf al-Sinkili.
Syekh Yusuf juga disebut menjalin hubungan dengan sejumlah ulama India, antara lain Sidi Matilaya, Abu al-Ma’ani Ibrahim Minhan, dan Abd al-Shiddiq bin Muhammad Shadiq. Hubungan tersebut memperlihatkan bahwa jaringan keilmuannya tidak hanya terbatas pada Nusantara dan Timur Tengah.
Bagi penguasa VOC, keberadaan jaringan tersebut menjadi persoalan tersendiri. Syekh Yusuf masih memiliki pengaruh dan tetap terhubung dengan orang-orang yang datang dari berbagai wilayah. Ia kemudian dipindahkan lagi, kali ini ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan.
Pada 1694, Syekh Yusuf dibawa bersama 49 pengikutnya menggunakan kapal De Voetboog. Mereka ditempatkan di Zandvliet, kawasan pertanian di dekat Sungai Eerste yang kini dikenal sebagai Macassar.
Di tempat pengasingan yang baru, Syekh Yusuf tetap mengajar dan membina para pengikutnya. Kehadirannya menjadi salah satu titik penting bagi komunitas Muslim yang berada jauh dari Nusantara.
Syekh Yusuf wafat di Afrika Selatan pada Mei 1699. Pada 1705, jasadnya dipulangkan ke Lakiung, Gowa. Meski demikian, namanya tetap hidup dalam ingatan masyarakat di Afrika Selatan, tempat ia menjalani masa akhir kehidupannya.
Dalam bahan paparan Gus Kholili, perjalanan Syekh Yusuf juga dikaitkan dengan pengakuan terhadap keteguhan dan pengaruhnya hingga akhir hayat.
“Perjalanan hidupnya pun penuh liku. Di Banten, ia berdiri tegak sebagai mufti dan pendamping Sultan Ageng Tirtayasa melawan kolonialisme Belanda. Ditangkap dan diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka) pada 1684, lalu dipindahkan ke Cape Town, Afrika Selatan, tak pernah menyurutkan api dakwahnya hingga akhir hayatnya pada 1699. Ketangguhan ini pula yang mengantarkannya diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 1995 dan diakui dalam agenda resmi UNESCO Anniversary 2026,” jelasnya.
Keterangan mengenai “UNESCO Anniversary 2026” dalam kutipan tersebut perlu dikonfirmasi melalui sumber resmi sebelum diterbitkan.
Tiba di Tanjung Harapan
Syekh Yusuf tiba di Tanjung Harapan, Afrika Selatan, pada 1694 bersama 49 pengikutnya. Pengasingan kedua ini dilakukan setelah keberadaannya di Ceylon dinilai belum sepenuhnya memutus hubungan dengan jaringan Nusantara.
Rombongan tersebut ditempatkan di Zandvliet, sebuah kawasan pertanian di dekat Sungai Eerste. Wilayah itu kemudian dikenal sebagai Macassar, nama yang merujuk pada asal-usul Syekh Yusuf dari Makassar.
Di usianya yang telah mencapai sekitar 68 tahun, Syekh Yusuf kembali harus menjalani kehidupan di tempat yang jauh dari tanah kelahirannya. Namun, kedudukannya sebagai ulama tetap membuatnya menjadi rujukan bagi para pengikut.
Ia bersama rombongannya berupaya menjaga kehidupan keagamaan di tanah pengasingan. Dalam bahan sejarah yang menjadi rujukan tulisan ini, Syekh Yusuf dan para pengikutnya disebut menggelar kegiatan ibadah serta memperkuat kehidupan keislaman di tengah keterbatasan mereka.
Kehadirannya kemudian menjadi bagian dari sejarah awal komunitas Muslim di kawasan tersebut. Pengaruh Syekh Yusuf tidak hanya dikenang melalui riwayat pengasingan, tetapi juga melalui kehidupan keagamaan dan ingatan masyarakat yang berkembang setelah ia wafat.
Tapak yang Mewangi di Benua Hitam
Nama Syekh Yusuf tetap dikenang di tanah pengasingannya. Makam yang dikaitkan dengannya menjadi tujuan ziarah masyarakat Muslim di Afrika Selatan. Komunitas setempat juga menggelar Kramat Festival sebagai salah satu cara mengenang tokoh yang dihormati dalam sejarah mereka.
Jejak hubungan dengan Nusantara terlihat pula dalam sejumlah kata yang digunakan masyarakat Cape Malay. Kata “puasa”, “lebaran”, dan “terima kasih”, misalnya, memiliki kemiripan dengan kosakata yang digunakan di Indonesia.
Dilansir dari situs Kementerian Luar Negeri Indonesia, komunitas Cape Malay merupakan kelompok masyarakat Muslim di Cape Town dan sekitarnya yang memiliki sejarah hubungan dengan orang-orang Indonesia yang tiba di wilayah tersebut ratusan tahun lalu.
Syekh Yusuf merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan awal komunitas Muslim di Afrika Selatan. Namun, sejarah komunitas tersebut juga dibentuk oleh perjalanan dan kedatangan orang-orang dari berbagai wilayah, sehingga pengaruhnya perlu ditempatkan dalam konteks sejarah yang lebih luas.
Dalam forum Temu Narasi, Ginanjar Sya’ban mengangkat hubungan Syekh Yusuf dengan Nelson Mandela. Ia menyampaikan bahwa Mandela pernah menjadikan Syekh Yusuf sebagai salah satu sumber inspirasi dalam perjuangan kemanusiaannya.
Menurut paparan Ginanjar, ada tiga alasan yang dikaitkan dengan penghormatan Mandela terhadap Syekh Yusuf. Pertama, Syekh Yusuf tidak hanya memperjuangkan kepentingan keluarganya sendiri, tetapi juga kepentingan bangsa lain. Kedua, perjuangannya tidak berhenti pada masyarakat asalnya, melainkan melintasi batas bangsa. Ketiga, pengaruh perjuangannya masih dapat dirasakan meskipun ia telah lama wafat.
Keterangan mengenai pernyataan Mandela tersebut perlu dilengkapi sumber primer atau dokumentasi yang dapat diperiksa sebelum diterbitkan sebagai fakta yang terverifikasi.
Jejak yang Sampai ke Mojokerto
Jejak Syekh Yusuf ternyata bersinggungan pula dengan wilayah Jawa Timur. Pada akhir paparannya, Gus Kholili menyebut adanya jejak tidak langsung Syekh Yusuf di Mojokerto.
Dalam salah satu manuskrip yang ditemukan, seorang ulama dari Karanggayam, Mojokerto, disebut sebagai pengikut Tarekat Syattariyah yang memiliki sanad kepada Syekh Yusuf al-Makassari.
Temuan tersebut menjadi salah satu bagian menarik dalam diskusi Temu Narasi. Di tengah pembahasan tentang perjalanan Syekh Yusuf hingga Afrika Selatan, manuskrip dari Karanggayam memperlihatkan kemungkinan adanya hubungan keilmuan yang dapat ditelusuri di wilayah Jawa Timur.
Informasi mengenai manuskrip itu masih memerlukan penelusuran lebih lanjut, terutama mengenai identitas ulama yang disebut, isi naskah, serta jalur sanad yang menghubungkannya dengan Syekh Yusuf. Pemeriksaan tersebut penting agar hubungan sejarah yang ditemukan dapat dijelaskan secara lebih utuh.
Temuan ini juga memperlihatkan pentingnya penelitian manuskrip lokal. Naskah yang tersimpan di lingkungan masyarakat atau pesantren dapat menyimpan informasi tentang hubungan ant ulama dan persebaran ajaran yang tidak selalu terlihat dalam catatan sejarah politik.
Dari Nusantara ke Panggung Dunia
Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban, M.Hum., dari UNUSIA Jakarta, membawa diskusi menuju pertanyaan yang lebih luas: mengapa Syekh Yusuf al-Makassari layak diperingati secara internasional?
Menurut Ginanjar, salah satu hal yang membuat Syekh Yusuf menarik perhatian dunia adalah sifatnya yang kosmopolit. Pengaruh pemikiran dan perjuangannya menyebar ke berbagai tempat, sedangkan karya-karyanya menjadi bagian dari koleksi manuskrip di sejumlah perpustakaan dunia.
Dalam paparannya, Ginanjar membandingkan cara sejumlah negara memperkenalkan tokoh intelektual dan warisan budaya mereka. Turki dikenal melalui Rumi, sedangkan China memperkenalkan warisan Confucius melalui berbagai program kebudayaan dan pendidikan. Indonesia, menurutnya, juga memiliki modal melalui warisan intelektual ulama Nusantara.

Syekh Yusuf menjadi salah satu tokoh yang dapat diperkenalkan melalui kajian sejarah, penelitian manuskrip, dan kerja sama kebudayaan lintas negara. Perjalanan hidupnya menghubungkan Nusantara, Sri Lanka, dan Afrika Selatan, sementara karya-karyanya membuka ruang penelitian yang melampaui batas geografis.
Dalam forum tersebut, Ginanjar juga mengangkat kisah Nelson Mandela yang disebut menjadikan Syekh Yusuf sebagai sumber inspirasi perjuangan kemanusiaan. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana warisan seorang tokoh dapat dibaca dalam konteks yang lebih luas, meskipun detail pernyataan Mandela tetap perlu diperiksa melalui sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi Ginanjar, Syekh Yusuf tidak hanya penting sebagai tokoh masa lalu. Pemikiran dan karya-karyanya dapat menjadi bagian dari percakapan internasional mengenai pengetahuan, spiritualitas, dan kemanusiaan.
Empat Wajah Syekh Yusuf
Dari paparan Ginanjar, setidaknya terdapat empat peran yang melekat pada sosok Syekh Yusuf: pengelana pengetahuan, ulama, aristokrat, dan penulis.
Pertama, pengelana pengetahuan. Perjalanan Syekh Yusuf ke berbagai wilayah memperlihatkan ketekunannya menimba ilmu. Ia berguru kepada sejumlah ulama dan membangun jaringan yang melintasi pusat-pusat keilmuan Islam.
Kedua, ulama. Syekh Yusuf mengajarkan agama dan tasawuf kepada para pengikutnya. Peran tersebut tetap dijalankannya ketika berada di lingkungan Kesultanan Banten maupun saat menjalani pengasingan di Sri Lanka dan Afrika Selatan.
Ketiga, aristokrat dan diplomat. Setelah melakukan pengembaraan, Syekh Yusuf menetap di Banten dan berada di lingkungan kesultanan. Ia dipercaya menangani korespondensi antara Kesultanan Banten dan kerajaan-kerajaan mancanegara. Keberadaan korespondensi tersebut, sebagaimana disampaikan dalam diskusi, masih perlu ditelusuri lebih lanjut.
Keempat, penulis. Syekh Yusuf disebut menghasilkan 32 kitab yang menjadi bagian dari tradisi intelektual Islam Nusantara. Manuskrip-manuskrip yang dikaitkan dengannya kini tersebar di berbagai koleksi dunia dan menjadi sumber penelitian.
Keempat peran tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan Syekh Yusuf tidak berhenti pada perpindahan tempat. Ia menimba pengetahuan, mengajarkannya kepada orang lain, terlibat dalam urusan politik, dan meninggalkan karya yang terus menjadi bahan kajian.
Warisan Kosmopolit dan Diplomasi Kebudayaan Masa Depan
Jejak intelektual Syekh Yusuf tersimpan dalam manuskrip yang tersebar di berbagai perpustakaan dan koleksi dunia, di antaranya Perpustakaan Universitas Leiden, Staatsbibliothek zu Berlin, koleksi di Tehran dan Princeton, serta Perpustakaan Nasional di Jakarta.
Persebaran manuskrip tersebut memperlihatkan bahwa warisan intelektual Syekh Yusuf telah melintasi batas geografis. Naskah-naskah itu juga menjadi sumber penting untuk menelusuri pemikirannya, jaringan keilmuan yang dibangun, serta hubungan antara ulama Nusantara dan pusat-pusat pengetahuan Islam di berbagai wilayah.
Dalam forum Temu Narasi, manuskrip karya Syekh Yusuf disebut tengah diajukan sebagai Memory of the World (MoW) ke UNESCO. Status dan tahap pengajuan tersebut perlu dipastikan kembali melalui keterangan resmi lembaga terkait.
Kehadiran warisan karya di berbagai negara menjadi modal diplomasi kebudayaan Indonesia. Ginanjar menilai bahwa teknologi digital dapat membantu membuka akses penelitian tanpa harus memindahkan naskah fisik dari tempat penyimpanannya.
“Melalui teknologi digital, warisan tersebut dapat tetap terjaga dengan aman di tempat asalnya sekaligus membuka pintu akses seluas-luasnya bagi para periset. Dalam menatap masa depan, tantangan terbesar adalah bagaimana menerjemahkan pemikiran luhur ini agar relevan bagi generasi muda,” tuturnya.
Selain digitalisasi, pengenalan Syekh Yusuf dapat dilakukan melalui penelitian, penerbitan karya, pameran, dan kerja sama kebudayaan lintas negara. Bahan reportase juga mencatat adanya pameran reproduksi karya Syekh Yusuf di Amsterdam. Rincian penyelenggara, waktu, dan kaitannya dengan agenda kebudayaan lain perlu dipastikan sebelum informasi tersebut diterbitkan.
Dalam paparan mengenai arah promosi kebudayaan, terdapat empat tugas yang disoroti Direktorat Promosi Kebudayaan. Pertama, mewujudkan pusat kebudayaan di berbagai negara sebagai bagian dari soft diplomacy kebudayaan. Kedua, membangun promosi edukasi. Ketiga, mengembangkan promosi melalui platform digital. Keempat, memperluas promosi konten kebudayaan melalui media global.
Keempat arah kerja tersebut membuka peluang agar warisan intelektual Syekh Yusuf tidak hanya dikenal ketika ada peringatan atau seminar. Karya dan pemikirannya dapat diperkenalkan melalui program yang berkelanjutan, dengan dukungan penelitian dan materi yang akurat.
Relevansi Pemikiran Syekh Yusuf bagi Generasi Muda
Bagi Ginanjar, tantangan memperkenalkan Syekh Yusuf kepada generasi muda tidak berhenti pada penyebaran informasi sejarah. Pemikirannya juga perlu disampaikan dengan bahasa dan medium yang dekat dengan keseharian mereka.
Salah satu konsep yang dapat diperkenalkan ialah Insan Kamil, yang dalam tradisi tasawuf berkaitan dengan perjalanan penyempurnaan diri. Dalam pembahasan di Mojokerto, konsep tersebut dihubungkan dengan upaya membersihkan diri dari sifat-sifat buruk, seperti keserakahan, kesombongan, dan keinginan berlebihan untuk mendapatkan pengakuan.
Ginanjar menilai bahwa penyampaian gagasan tersebut perlu menyesuaikan cara berkomunikasi yang akrab bagi anak muda.
“Perlu dengan logika anak-anak muda zaman sekarang. Misalkan dibuat film, dokumenter, video pendek, infografis, komik, dan media-media yang sesuai kebutuhan zamannya,” ujar Ginanjar, seraya menyebut pentingnya merangkul para influencer sebagai jembatan informasi.
Gagasan itu dapat dikembangkan melalui konten sejarah, film dokumenter, komik, dan materi pendidikan. Namun, pengemasan yang lebih populer tetap perlu ditopang penelitian dan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pemikiran Syekh Yusuf juga dapat diperkenalkan melalui ajaran tentang akhlak dan keadilan yang disampaikan Oman. Prinsip menghormati orang lain tanpa memandang perbedaan agama, memuliakan tamu, dan menghadirkan kenyamanan bagi sesama dapat menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan antara tasawuf dan perilaku sosial.
Sementara itu, perjalanan Syekh Yusuf dalam menentang kolonialisme memperlihatkan bahwa keyakinan spiritual tidak membuatnya berpaling dari persoalan masyarakat. Dua sisi ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda, selama disampaikan dengan konteks sejarah yang jelas dan tidak sekadar diubah menjadi slogan.
Menjaga Cahaya
Forum Temu Narasi di Mojokerto melahirkan tiga tawaran untuk menjaga warisan Syekh Yusuf al-Makassari agar tetap dapat dipelajari dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Pertama, memperkuat kajian internasional tentang karakter kosmopolit Syekh Yusuf dan pemikirannya. Kedua, menjadikannya salah satu ikon culture centre, baik di tingkat lokal, regional, nasional, maupun internasional. Ketiga, melacak dan menerbitkan karya-karyanya agar dapat menjadi rujukan dalam pendidikan dan pembangunan karakter generasi masa kini.
Usulan tersebut membutuhkan kerja bersama antara peneliti, lembaga kebudayaan, lembaga pendidikan, media, dan komunitas. Kajian internasional memerlukan sumber yang dapat diperiksa. Penerbitan karya membutuhkan penelitian manuskrip dan penyuntingan yang cermat. Sementara itu, pengenalan kepada publik perlu menggunakan bahasa dan medium yang dapat menjangkau masyarakat lebih luas tanpa menghilangkan konteks sejarah.
Temuan manuskrip dari Karanggayam, Mojokerto, menjadi salah satu contoh mengapa penelitian lanjutan diperlukan. Hubungan sanad yang disebut dalam forum tersebut masih perlu ditelusuri, tetapi informasinya membuka ruang untuk mengkaji lebih jauh persebaran jaringan keilmuan Syekh Yusuf di Nusantara.
Peringatan 400 tahun Syekh Yusuf bukan hanya kesempatan untuk mengenang seorang ulama yang lahir di Tallo pada 1626. Perjalanan hidupnya juga memperlihatkan hubungan antara pengetahuan, spiritualitas, perlawanan terhadap kolonialisme, dan perjumpaan antarmasyarakat.
Dari Nusantara hingga Afrika Selatan, jejak Syekh Yusuf masih menyisakan ruang untuk diteliti. Salah satunya berada di Karanggayam, Mojokerto, melalui manuskrip yang disebut memiliki hubungan sanad dengannya. Penelusuran lebih lanjut terhadap jejak tersebut dapat menambah pemahaman tentang jaringan keilmuan yang pernah berkembang di Nusantara. [tok/beq]






