Trenggalek (beritajatim.com) – Di tengah lekuk-lekuk perbukitan Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, sosok Slamet Riyadi (30) menghadirkan cahaya dari tempat yang sering luput dari perhatian publik. Sejak 2017, ia secara mandiri memproduksi konten video dengan menyajikan potret kehidupan sederhana, cerita kuliner lokal, hingga pesan-pesan penyemangat dari sudut barat daya Jawa Timur.
“Konten saya biasanya berisi cerita kehidupan. Cari-cari makanan,” ujarnya, menggambarkan rutinitas yang ia lakoni dengan peralatan sederhana, pada Senin (23/6/2025).
Keterbatasan fisik tak membuat Slamet berhenti melangkah. Justru, dari ruang kecil yang ia miliki, ia menembus batas dunia maya. Mulai dari YouTube, Facebook, TikTok, Snack Video, Twitter, hingga Instagram. Ia hadir bukan sekadar sebagai kreator, tetapi sebagai suara bagi kelompok disabilitas yang sering kali dipinggirkan.
Namun, langkah Slamet tidak selalu mudah. Ia harus menelan pahitnya stigma sosial dan komentar negatif dari mereka yang tak mampu melihat esensi dari perjuangannya. “Karena disabilitas banyak yang tidak suka. Tapi untuk teman-teman disabilitas, sehat selalu, jangan menyerah karena kita diciptakan sama walaupun kita berbeda,” ucapnya, mata teduhnya menyiratkan keteguhan hati.
Tahun 2025 membawa angin segar bagi Slamet. Melalui program dari Kementerian Sosial RI, Sentra Terpadu Kartini Temanggung memberikan bantuan perangkat podcast lengkap, mixer, mikrofon, hingga lampu pencahayaan. Bantuan itu menjadi batu loncatan baru untuk memperluas jangkauan dan dampak positif dari konten-kontennya.
Slamet pun berencana memulai podcast dari rumahnya yang masih dalam tahap pembangunan. Ia telah membidik sosok tamu istimewa untuk episode perdananya. “Kalau dengan Bupati saya ingin mengobrol tentang perekonomian,” kata Slamet.
Lebih dari sekadar obrolan, podcast Slamet akan menjadi ruang berbagi bagi komunitasnya. Segmen “Disabilitas Kreatif” akan mempertemukan kisah-kisah inspiratif dari sesama penyandang disabilitas di Trenggalek. Dalam format suara dan cerita, Slamet ingin masyarakat melihat lebih dari sekadar fisik, ia ingin mereka mendengar perjuangan dan impian.
“Sukanya kalau kita bisa ngangkat daerah sendiri dan teman-teman disabilitas. Bisa menginspirasi teman-teman disabilitas,” ujarnya, mantap.
Apresiasi atas langkah Slamet juga datang dari Ketua Tim Penggerak PKK Trenggalek, Novita Hardini. Ia menilai perjuangan Slamet adalah cermin dari kekuatan yang lahir dari kelompok rentan yang tak kehilangan asa. “Ini pelajaran penting bahwa yang berdiri di sini juga berawal dan lahir dari bagian kelompok rentan yang punya cita-cita besar dan harapan yang besar,” pungkas Novi. [nm/ian]






