Bojonegoro (beritajatim.com) – Dua kolam ikan lele menjadi awal perjalanan Khoiri dalam membangun usaha budidaya perikanan. Warga Desa Klepek, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, itu kini mampu mengembangkan usahanya secara mandiri. Bahkan, hasil panen yang diperoleh digunakan untuk membeli kolam tambahan hingga membuat kolam tanah.
Perjalanan tersebut bermula pada Agustus 2025. Saat itu, Khoiri menjadi salah satu penerima bantuan program Lele KOLEGA (Kolam Lele Keluarga) dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan).
Ia menerima bantuan berupa dua kolam, bibit ikan lele, dan pakan. Bantuan tersebut menjadi modal awal bagi Khoiri untuk mencoba mengembangkan usaha budidaya ikan lele di rumahnya.
Namun, baginya, bantuan itu bukan sekadar sesuatu yang diterima lalu dimanfaatkan untuk sekali panen. Ia melihatnya sebagai peluang untuk membangun usaha yang bisa terus berkembang.
Hasil panen pertama dan berikutnya mulai ia kumpulkan. Sebagian keuntungan tidak langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, melainkan diputar kembali sebagai modal pengembangan usaha.
“Awalnya saya mendapat bantuan dua kolam. Kemudian, hasil panen kedua saya belikan satu kolam lagi. Saya tabung lagi sedikit demi sedikit sampai bisa membeli kolam kedua, dan sekarang saya juga membuat kolam tanah,” ungkap Khoiri. Jumat (30/10/2026).
Dari langkah kecil tersebut, usaha budidaya lele yang dijalankannya perlahan berkembang. Kolam yang semula hanya dua unit bantuan pemerintah, kini bertambah berkat hasil kerja dan ketekunannya sendiri.
Bagi Khoiri, membudidayakan ikan lele memang membutuhkan kesabaran. Perawatan harus dilakukan secara rutin, mulai dari menjaga kondisi air kolam hingga memastikan pemberian pakan berjalan teratur.
Ia menyebut, dengan pengelolaan yang baik, ikan lele dapat dipanen dalam waktu sekitar dua setengah bulan. Dalam sekali tebar, Khoiri menggunakan sekitar 10.000 ekor bibit lele dan mampu menghasilkan panen kurang lebih satu ton.
Jumlah tersebut menjadi capaian tersendiri dalam perjalanan usahanya. Dari hasil panen itulah ia memiliki kesempatan untuk terus menambah sarana budidaya dan meningkatkan kapasitas produksi.
Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil panen terserap pasar. Namun, Khoiri tidak harus mencari pembeli seorang diri. Ia memanfaatkan jaringan komunitas pembudidaya lele Bojonegoro melalui grup daring yang mempertemukan para peternak dengan tengkulak.
Keberadaan grup tersebut memudahkannya mendapatkan informasi sekaligus menjangkau pembeli ketika masa panen tiba. “Dari grup itu saya tidak kebingungan harus jual ke mana,” ujarnya.
Pengalaman tersebut membuat Khoiri semakin yakin bahwa usaha budidaya lele memiliki peluang untuk terus dikembangkan. Apalagi, jika dikelola dengan baik dan hasil penjualannya dimanfaatkan kembali sebagai modal usaha.
Ia pun menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemkab Bojonegoro karena bantuan yang diterimanya telah membuka kesempatan untuk membangun usaha produktif dan membantu perekonomian keluarga.
“Terima kasih kepada Pemkab Bojonegoro. Bantuan ini sangat membantu saya. Untuk teman-teman yang baru menerima program Kolega, semoga bisa dimanfaatkan dengan baik, dikembangkan sedikit demi sedikit, sehingga dapat menambah perekonomian keluarga dan usahanya semakin maju,” tuturnya.
Kisah Khoiri menjadi gambaran bahwa bantuan usaha tidak harus langsung menghasilkan perubahan besar dalam waktu singkat. Dengan kemauan untuk belajar, ketekunan merawat budidaya, serta kemampuan mengelola hasil panen, bantuan sederhana bisa menjadi titik awal tumbuhnya usaha yang lebih besar.
Melalui program Lele KOLEGA, Pemkab Bojonegoro melalui Disnakkan berupaya mendorong masyarakat memanfaatkan potensi perikanan sebagai sumber usaha produktif.
Harapannya, bantuan yang diberikan tidak berhenti pada penerima manfaat pertama, tetapi terus berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang mampu menopang kebutuhan keluarga.
Dari dua kolam bantuan, Khoiri menunjukkan bahwa peluang bisa tumbuh ketika dikelola dengan kesungguhan. Kini, kolam-kolam lele yang dimilikinya bukan hanya tempat membesarkan ikan, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar membangun ekonomi keluarga. (fif/aje).






