Pamekasan (beritajatim.com) – Pengajaran bahasa Korea di Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) di Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kiai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan, tidak semata diarahkan untuk mengajarkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing. Justru program tersebut ditempatkan sebagai bagian dari visi pendidikan dalam rangka memperluas wawasan murid dan membawa mereka keluar dari batas geografis, sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi lingkungan pergaulan global.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari pilar One Week Three Languages ala Padepokan Kiai Mudrikah, yakni pembelajaran bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Korea. Tiga bahasa tersebut dirancang dengan fungsi yang berbeda, tetapi saling melengkapi dalam membangun kompetensi global peserta didik.
“Bahasa Arab diarahkan sebagai jembatan menuju khazanah keislaman dan peradaban klasik, bahasa Inggris menjadi pintu masuk menuju komunikasi, ilmu pengetahuan, dan komunitas akademik internasional. Sementara bahasa Korea diposisikan sebagai jendela untuk mengenal perkembangan pendidikan, teknologi, kreativitas, riset, serta industri pengetahuan di Asia Timur,” kata Direktur Utama IBS PKMKK Pamekasan, Achmad Muhlis, Senin (14/9/2026).
Dengan begitu, penguasaan bahasa di MTs dan MA di lingkungan Padepokan Kiai Mudrikah Pamekasan tidak berhenti pada kemampuan menghafal kosakata atau menggunakan ungkapan sehari-hari. Tetapi bahasa dipandang sebagai instrumen untuk memahami masyarakat, kebudayaan, ilmu pengetahuan, teknologi, serta cara suatu bangsa membangun sumber daya manusia.
Mengapa Korea, Bukan Mandarin?
Pilihan bahasa Korea secara strategis tentu menimbulkan beragam pertanyaan, di antaranya mengapa justru bahasa Korea yang dipilih, bukan bahasa Mandarin yang juga memiliki posisi penting dalam percaturan global?
“Pertanyaan itu justru sangat relevan dalam konteks desain kurikulum, pemilihan bahasa Korea bukan berarti menganggap bahasa Mandarin tidak penting. Sebaliknya, keputusan ini merupakan pilihan strategis yang disesuaikan dengan arah pengembangan pendidikan di MTs/MA Kiai Mudrikah Kembang Kuning,” ungkapnya.
Pihaknya menilai dalam dua dekade terakhir, Korea Selatan menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dalam mengintegrasikan pendidikan, teknologi digital, inovasi, riset, kreativitas, dan pembangunan sumber daya manusia. “Perkembangan tersebut menjadikan Korea sebagai salah satu negara yang menarik untuk dipelajari dalam konteks pendidikan abad ke-21,” imbuhnya.

Terlebih pengalaman Korea juga dinilai dapat menjadi bahan pembelajaran bagaimana pendidikan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan masyarakat. “Karena itu, pengenalan bahasa Korea tidak hanya diarahkan pada kemampuan berbahasa, tetapi juga pada pembukaan akses terhadap pengalaman dan pengetahuan,” tegasnya.
“Salah satunya, Korea dapat menjadi salah satu referensi untuk melihat bagaimana transformasi digital diterapkan dalam pendidikan, bagaimana teknologi dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, serta bagaimana inovasi dikembangkan untuk menjawab kebutuhan generasi masa depan,” sambung Achmad Muhlis.
Dalam kerangka pendidikan ala Padepokan Kiai Mudrikah Pamekasan, terdapat perbedaan penting antara belajar bahasa dan belajar melalui bahasa. Belajar bahasa berarti murid mempelajari struktur, kosakata, pelafalan, dan keterampilan komunikasi. Sementara belajar melalui bahasa berarti bahasa tersebut digunakan sebagai pintu masuk untuk mengenal pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut.
“Melalui konsep ini, santri tidak diarahkan hanya belajar untuk mengenal ungkapan seperti annyeonghaseyo, tetapi juga diperkenalkan pada berbagai aspek kehidupan dan perkembangan Korea yang dapat dipelajari secara kritis. Di dalamnya termasuk disiplin belajar, budaya riset, perkembangan teknologi, kreativitas, inovasi, etos kerja, serta dinamika pendidikan,” jelasnya.
Pendekatan tersebut membuat pembelajaran bahasa memiliki dimensi yang lebih luas, di mana para santri tidak sekadar menjadi pengguna bahasa, tetapi juga diajak menjadi pembelajar yang mampu membaca pengalaman bangsa lain. Sekaligus meningkatkan pengetahuan secara utuh melalui kemampuan memilah, mengkritisi, dan mengambil nilai-nilai positif yang relevan untuk dikembangkan dalam konteks kehidupan mereka sendiri.
“Perlu digarisbawahi bahwa pembelajaran bahasa Korea ini tidak dimaksudkan untuk mengubah karakter pendidikan pesantren menjadi pendidikan yang berorientasi pada budaya Korea. Tapi prinsip yang kami prioritaskan adalah mengglobalisasikan wawasan santri tanpa mencabut akar keislaman dan keindonesiaan,” tegasnya.
Dari beragam kemajuan yang ditemukan dari pengalaman Korea dapat dipelajari dan didialogkan dengan nilai-nilai Islam serta tradisi pesantren. Disiplin, kerja keras, budaya belajar, riset, inovasi, dan pemanfaatan teknologi dapat menjadi bahan refleksi untuk memperkuat pendidikan santri.
Dengan pendekatan tersebut, para santri diharapkan tidak menjadi sekadar konsumen budaya global. Tetapi mereka justru dipersiapkan menjadi pembelajar yang mampu berinteraksi dengan berbagai peradaban secara kritis, terbuka, dan tetap memiliki pijakan nilai.
“Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, kemampuan semacam itu menjadi semakin penting. Pendidikan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan yang berlaku hari ini, tetapi juga harus membekali peserta didik dengan kemampuan belajar, beradaptasi, berpikir kritis, berkomunikasi lintas budaya, serta memahami perubahan dunia,” pungkasnya. [pin/but]






