Surabaya (beritajatim.com) – Jalan macet dan semakin sedikit para pengguna transportasi umum menunjukkan peningkatan pengendara pribadi. Dampak yang cukup terlihat adalah lingkungan menjadi rusak akibatnya muncul polusi udara.
Bukan hanya terjadi di negara maju, nyatanya hal ini terjadi di Indonesia semakin berkurang pengguna kendaraan transportasi umum dibandingkan milik pribadi. Walaupun memang benar, jika memiliki kendaraan pribadi lebih mudah atau mengefisienkan mobilitas.
Hanya saja, dampak yang terjadi pada peningkatan pengguna kendaraan pribadi berpengaruh pada kondisi lingkungan khususnya pencemaran udara. Selain itu, terjadinya kemacetan hingga kesemrawutan di jalan raya, baik di kota besar maupun di kota kecil. Jika biasanya adanya jalan layang bertujuan sebagai solusi alternatif dalam mengurangi kemacetan ternyata tidak ada ada efeknya akibat dari penambahan jumlah pemakai kendaraan.
Jika kita pahami lebih dalam mengenai polusi udara menyebabkan lingkungan tidak sehat sehingga udara semakin terasa panas. Penyebab dari panasnya udara pada pencemaran udara merupakan akibat dari emisi timbul karena banyaknya jumlah kendaraan.
Pasalnya, kendaraan dengan bahan bakar minyak yang menghasilkan emisi berupa CO2. Jika pengguna kendaraan semakin banyak, maka CO2 menjadi semakin meningkat. CO2 merupakan senyawa yang menimbulkan berbagai dampak di wilayah bahkan dunia.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ekonomi”]
Nyatanya bukan hanya dari dampak kendaraan transportasi, CO2 berasal dari pabrik-pabrik Industri. Ada pabrik produksi menghasilkan 1,4 miliar ton CO2 per tahun. Pembukaan hutan mengakibatkan emisi sekitar 3,5 miliar ton per tahun sehingga total emisi karbon dioksida dari berbagai aktivitas manusia mencapai 35 miliar ton.
Indonesia termasuk negara penghasil emisi karbon tertinggi keenam di dunia. Pernyataan ini berasal dari World Resources Institute (WRI) di Washington DC. Sedangkan negara penghasil emisi karbon (CO2) tertinggi dunia dimulai dari bawah China, Amerika Serikat, Uni eropa, India, dan Rusia.
Ternyata sudah berbagai banyak negara yang menghasilkan senyawa berbahaya. Sedangkan, secara umum inilah total emisi karbon yang ada di Indonesia adalah 2,05 miliar ton. Jadi apakah langkah kita selanjutnya untuk mengurangi dampak ini? (PRD/ian)






