Banyuwangi (beritajatim.com) – Banyuwangi mulai bersiap melakukan langkah untuk antisipasi dampak fenomena el nino. Pasalnya, efek yang bakal terasa adalah memicu kemarau panjang yang berdampak pada debit air irigasi.
Kondisi itu juga memberikan pengaruh pada produksi pangan di Banyuwangi. Melihat hal itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengajak dan memerintahkan dinas terkait untuk memantau dampak lain yang ditimbulkan.
“Saya minta OPD untuk cek di lapangan masing-masing. Dinas PU pengairan pantau terus debit air di dam-dam dan bendungan untuk memastikan sawah teraliri air dengan baik. Pun Dinas Pertanian cek produksi beras karena kemungkinan produksi padi tidak bisa seproduktif sebelumnya, walaupun posisi stok beras kita masih surplus hingga akhir tahun ini,” kata Bupati Ipuk.
Baca Juga: Perkara Kecelakaan Kerja PG Kebonagung Malang Mulai Masuk Persidangan
Sejauh ini, kata Ipuk, data dari Dinas PU Pengairan menunjukkan tampungan air di sejumlah dam di Banyuwangi relatif masih cukup. Meskipun saat ini kondisi debit air menurun dibanding waktu normal.
“Hasil pantauan di lapangan, saat ini reservoir di sejumlah dam bisa dibilang aman. Petani yang menanam padi masih bisa melanjutkan aktivitasnya, namun kami imbau menanam varietas padi yang toleran terhadap kekurangan air,” kata Ipuk.
Data menunjukkan, debit air sejumlah dam di Banyuwangi seperti dam Karangdoro debit airnya 8000 liter/detik bisa mengairi sawah 16.165 ha, dam Tengoro debit air 1209 liter/detik mengairi 1074 ha, bendung Stail Genteng debit 2624 liter/detik untuk 5.711 ha, bendung Porolinggo Glenmore debit airnya 1300 liter/detik mengairi sawah seluas 3515 ha. Sementara Waduk Bajulmati masih menyimpan 8 juta meter kubik. (rin/ian)






