Ngawi (beritajatim.com) – Dalam tiga hari, kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Ngawi mencapai 189 kasus. Kenaikan tertinggi usai sejumlah sapi yang bergejala langsung dideteksi terjangkit.
Data Tersebut sudah masuk dalam Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (Isikhnas) Kabid Keswan Dinas Perikanan dan Peternakan Ngawi Wachidah Suryandani membenarkan jika kasus PMK Ngawi sudah hampir menyentuh angka 200 kasus. Mayoritas adalah sapi dengan sebaran di 15 kecamatan di Ngawi.
Saat ini pihaknya masih terus melakukan monitoring ke seluruh wilayah Ngawi guna mendata dan memilih sapi yang sakit. Mayoritas informasi sapi yang sakit itu langsung dilaporkan oleh pemilik ternak. Dia menyebut jika petugas di lapangan kini tak perlu melakukan pengambilan sampel dan langsung mendata sapi sakit dengan gejala PMK dinyatakan terjangkit PMK.
“Semua masih turun ke lapangan untuk memeriksa seluruh laporan masyarakat terkait adanya ternak yang sakit,” kata Wachidah pada beritajatim.com, Jumat (17/6/2022)
Dia menyebut jika saat ini kondisi sapi masih dalam pengobatan. Dis membenarkan jika masyarakat ada yang panik namun mereka diminta untuk mengurungkan niat untuk menjual sapi. Petugas di lapangan tak hanya melakukan pengobatan tapi juga meredam kekhawatiran masyarakat agar tak buru-buru menjual ternak.
“Jika dijual pasti harga turun, nanti rugi banyak. Sebaiknya tetap disembuhkan, sabar, telaten. PMK bisa sembuh. Jadi, kami harap masyarakat bisa lebih sabar kami juga sedang berupaya,” lanjut Wachidah. (fiq/ted)






