Surabaya (beritajatim.com) – Jumlah antrian jemaah haji lansia pada operasional haji tahun 1445 H/2024 M diperkirakan melebihi 40 ribu orang. Mengingat banyaknya jumlah tersebut, Tim dari Pusat Kesehatan Haji Kemenkes merekomendasikan kriteria penilaian lansia mandiri.
Kasi Kesehatan Daker Makkah selama operasional haji tahun 1444 H/2023 M, Andi Arjuna menyampaikan rekomendasi ini dalam Evaluasi Kinerja Petugas PPIH Arab Saudi di Semarang, Kamis (31/8/2023).
Menurut Andi Arjuna, perlu ada langkah tertentu dalam pemeriksaan jemaah, termasuk proses identifikasi potensi istitha’ah kesehatan jemaah haji melalui data rekam medis. Selain itu, perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan pada jemaah sebelum keberangkatan.
“Penetapan istithaah kesehatan juga berdasarkan penilaian kesehatan mental dan kemampuan kognitif. Untuk jemaah lansia, perlu ditambahkan penilaian kemampuan melakukan ADL (Activity Daily Living) secara mandiri,” ungkap Andi Arjuna yang dikutip dari laman Kemenag, Kamis (31/8/2023).
Pendekatan ini sejalan dengan amanat Pasal 3 Undang-undang No. 8 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah. Pasal tersebut menyebutkan bahwa penyelenggaraan ibadah haji dan umrah bertujuan memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan bagi jemaah haji dan umrah agar mereka dapat menjalankan ibadah sesuai dengan ketentuan syariat.
BACA JUGA: Bank BRI Sukses Gelar Pesta Rakyat Simpedes 2023 di Pandaan Pasuruan
Andi Arjuna juga mengutip Pasal 3 huruf b yang menyatakan tujuan lainnya yaitu mewujudkan kemandirian dan ketahanan dalam penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah.
“Jadi perlu ada penilaian untuk mengukur bagaimana kemampuan lansia melakukan aktivitas secara mandiri. Misalnya, kemampuan makan, mengenakan pakaian sendiri, dan lainnya,” sambungnya.
Untuk mempermudah identifikasi rekam medis jemaah, Arjuna juga menjelaskan bahwa aplikasi Satu Sehat akan dioptimalkan dalam proses tersebut.
Berkaitan dengan upaya meningkatkan layanan kesehatan pada operasional haji tahun depan, Tim Kesehatan merekomendasikan beberapa upaya perbaikan, yaitu:
- Penyiapan pos kesehatan satelit di setiap hotel, baik di Makkah maupun Madinah. Ini akan dioptimalkan agar lebih bermanfaat. “Pos ini sangat membantu jemaah karena mereka menjadi lebih mudah mengecek kesehatan,” sebut Andi Arjuna.
- Perluasan dan penambahan daya listrik pada poskes Mina dan tenda petugas. Ini berkaitan dengan peralatan kesehatan yang akan digunakan.
- Penempatan dokter spesialis di sektor Makkah dan Madinah. Ini untuk memudahkan dalam melakukan proses deteksi awal.
(nap)






