Surabaya (beritajatim.com) – Covid-19 telah hampir tiga tahun menghantui dunia. Selama kurun waktu tersebut, virus corona diketahui telah berkembang menjadi banyak varian sebab mutasi. Melansir Worldometers, lebih dari 600 juta kasus Covid-19 terjadi. Sedangkan, jumlah korban yang meninggal lebih dari 6,5 juta jiwa.
Bersamaan dengan mutasi virus, tahapan vaksin hingga jenis vaksin, semua itu menyebabkan timbulnya gejala baru terhadap Covid-19. Gejala baru ini bervariasi seiring waktu, mulai dari kelelahan ringan hingga yang aneh seperti “lidah Covid”.
ZOE Health Study dan peneliti dari King’s College London, Rumah Sakit Umum Massachusetts, Harvard dan Universitas Stanford membagikan proyek daftar terbaru mengenai gejala Covid-19. Laporan ini diambil dari data 4 juta lebih pengguna aplikasi ZOE Covid Study, yang telah melacak gejala virus berdasarkan data harian yang dimasukkan pengguna sejak 2020.
Gejala Baru Covid-19
Gejala Covid-19 dibagi antara tiga kelompok vaksinasi, yakni orang yang menyelesaikan vaksin primer, orang dengan vaksin dosis kedua dan mereka yang tidak divaksinasi sama sekali.
Mereka yang telah mendapatkan vaksinasi, cenderung mengalami gejala lebih sedikit dan tak terlalu parah. Tidak hanya itu, orang yang sudah disuntik vaksin Covid-19 juga mengalami infeksi dalam waktu relatif lebih singkat.
Berikut gejala umum Covid-19 pada orang yang sudah mendapatkan vaksin dosis primer/pertama:
– Sakit kepala
– Pilek
– Sakit tenggorokan
– Bersin
– Batuk terus-menerus.
Berikut gejala umum Covid-19 pada orang yang sudah mendapatkan vaksin dosis kedua:
– Sakit tenggorokan
– Pilek
– Hidung mampet
– Batuk terus-menerus
– Sakit kepala.
Sedangkan gejala umum pada orang yang tidak pernah divaksin tak berbeda jauh, berikut gejala umum yang dilaporkan terjadi pada orang tanpa vaksin:
– Sakit kepala
– Sakit tenggorokan
– Pilek
– Demam
– Batuk terus-menerus.
Empat dari lima gejala yang paling sering dilaporkan, termasuk sakit tenggorokan, pilek, batuk terus-menerus, dan sakit kepala, muncul di ketiga kelompok, tetapi prevalensinya bervariasi. Orang yang tidak pernah divaksinasi lebih sering mengalami demam, yang tidak muncul dalam lima gejala orang yg pernah divaksin.
Orang-orang yang mendapat satu dosis pertama vaksin san kedua juga melaporkan gejala yang lebih singkat dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi. Mereka mengalami gejala rata-rata dua hingga enam hari lebih singkat daripada yang tidak divaksin.
Gejala umum pada awal Kasus Covid-19 seperti kehilangan penciuman atau anosmia, sesak napas, dan demam tak lagi berada di urutan teratas. Sesak napas menduduki peringkat gejala ke-29, tidak jauh berbeda dengan yang sudah divaksin dan belum.
Penelitian lain telah menemukan bahwa varian Covid-19, seperti omicron lebih kecil kemungkinannya daripada jenis Covid sebelumnya untuk menyebabkan gejala seperti kehilangan rasa atau penciuman.
[berita-terkait number=”5″ tag=”penyakit”]
Senada dengan ZOE, dilansir dari Everyday Health, spesialis penyakit menular di Stanford University, Dean Winslow mengungkapkan, gejala Omicron atau varian yang mendominasi saat ini cenderung menyerupai flu biasa.
Namun kelemahan dari penelitian ini terletak pada sub faktor, yakni tidak memperhitungkan varian Covid mana yang menyebabkan infeksi, berapa banyak infeksi yang pertama kali dialami, apakah pengguna menerima dosis booster, informasi demografis pasien, dan tingkat keparahan gejala per orang.
Meski begitu, ZOE tetap menekankan bahwa perlindungan yang paling efektif terhadap virus sekarang adalah suntikan booster khusus omicron (varian baru).
Winslow juga menekankan, pandemi Covid-19 belum berakhir. Untuk menghindari infeksi, masyarakat harus tetap mengenakan masker saat berada di kerumunan. (Kai/ian)






