Surabaya (beritajatim.com)– Anak anak di Jemur Gayugan RT1 RW3, kampung Taman Pelangi atau Bundaran Dolog Surabaya mengaku sedih apabila harus meninggalkan tanah kelahiran, demi proyek underpass.
Mereka anak anak ini banyak membuat coretan di tembok tembok hingga di dinding mushala. Yang bertulis ‘Kenangan Jemur Tengah Tak Bisa Terulang’, ‘Kenangan Terindah Jemur Gayugan 01’ juga ‘Kenangan Jemur Tengah’ dan masih banyak lagi.
Kesedihan itu diungkapkan Irul, bocah 10 tahun. Katanya, dia merasa sedih karena akan meninggalkan tempat kelahirannya dan berpisah dengan teman teman yang menemaninya bermain selama ini.
“Iya (anak sini yang menulis). Nggak enak (harus pindah) banyak kenangan. (Kenangannya) seperti main bareng bareng sama berenang,” ungkap Irul saat ditanya beritajatim.com, Minggu (4/8/2024).
Bocah 10 tahun itu pun mengaku menangis, saat orang tua-nya memberi tahukan sekeluarga harus pindah.
“Iya (sedih), nangis (saat dibilangin orangtua). Iya soalnya tempat kelahiran,” ucap Irul.
Suasana kampung Taman Pelangi, saat ini sudah mulai sepi dan separuh penduduk telah mengosongkan rumah mereka, karena menerima biaya ganti rugi pembebasan lahan dari pemerintah kota (Kota Surabaya).
“Di sini ada 20 rumah dihuni 25 KK, sedang yang sudah kosong mendapatkan pembebasan lahan ada 10 rumah,” kata Siri, warga setempat ditemui beritahatim.com, Minggu 4 Agustus 2024 hari ini.
Siri mengatakan, 20 rumah di Jemur Gayugan ini sudah selesai melakukan MOU terkait pembebasan lahan dengan pemerintah Surabaya.
Warga yang sudah meninggalkan rumah – rumah mereka sudah mendapatkan pencairan ganti rugi, sedangkan warga yang masih bertahan ini belum. [ram/aje]







