Surabaya (beritajatim.com) – Semasa bermain sepakbola, ia adalah sosok penting di posisi lini tengah bagi tim-tim yang ia bela. Hingga saat ini, ia pun masih mnejadi pemain paling sukses di sejarah Liga Champions Eropa.
Sebab, ia satu-satunya pemain yang pernah tiga kali menjuarai Liga Champions dengan tiga klub berbeda. Sekali bersama Ajax di awal karir sepakbolanya, sekali bersama Real Madrid dan sekali Bersama AC Milan. Bahkan, bersama Milan, ia juga berhasil menjuarai Piala Dunia Antar Klub.
Clarence Seedorf. Gelandang asal Belanda keturunan Suriname tersebut pun lebih lama bermain di Italia, terutama di duo Milan daripada di negaranya sendiri. Di usia 21 tahun, Seedorf sudah merantau ke Italia.
Satu musim bermain untuk Samdoria, ia kemudian hijrah ke klub raksasa Real Madrid.Empat musim bermain untuk Los Galacticos, Seedorf kembali merantau ke Italia. Kali ini ia bermain untuk Inter Milan. Di sini lah karirnya di italia kembali mendapat sorotan.
Hanya dua musim berbaju Inter Milan, Seedorf pindah ke tim rival sekota,AC Milan. Tim yang kemudian ia labuhi selama 10 tahun. Kepindahannya pun bukan dengan proses pembelian. Melainkan tukar guling.
Inter kala itu itu menukarnya dengan Francesco Coco. Antara Seedorf maupun Coco, sebenarnya tidak terdapat kendala di klub masing-masing.
Namun, baik pihak Milan dan Inter mencoba telah melakukan barter pemain sebab alasan taktis dan keuangan, juga memang murni kebutuhan klub. Oleh sebab itu, kedua pemain sama-sama rela ditukar.
Meskipun pada akhirnya, barter tersebut menjadi kerugian salah satu dari keduanya. Kerugian yang jelas diderita oleh Inter Milan, dan keuntungan besar pada AC Milan,
Hal itu berawal karena redupnya karir Coco. Padahal ketika berseragam AC Milan, Coco dipandang bakal menjadi suksesor Paolo Maldini. Maka dari itu, Milan rela meminjamkan ke beberapa klub agar menit bermainnya bertambah dan ketika pulang ke Milan berkembang.
Namun, Coco justru ditukar dengan Seedorf. Musim pertama berjalan dengan baik, tetapi cedera punggung parah yang dideritanya menjadi awal dari menurunnya karir Coco. Di lain sisi, karier Seedorf pun meroket. Membarternya dengan Coco adalah hal yang tidak sama sekali disesali Seedorf, tetapi hal yang paling dirugikan Inter karena Coco tidak memenuhi ekspektasi.
Seedorf meroket di Milan karena chemistrynya bersama Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso sangat cocok sehingga Seedorf pun dianggap sebagai legenda di Milan. Bahkan, trio gelandang tersebut menghasilkan 2 gelar UCL dan membuat semakin menyesal melepaskannya. Hal ini karena beranggapan bahwa Coco sama berharganya dengan Seedorf, tetapi nyatanya tidak sama sekali.
Dalam kejadian itulah menjadi cerita tersendiri di dunia sepakbola. Seedorf yang awalnya tidak begitu diprediksi akan sangat bersinar, justru melegenda. Sebaliknya Coco yang dianggap akan bersinar pada masa mendatang justru terus alami penurunan performa. [dan/tur]






