Sumenep (beritajatim.com) – Sekitar 100 mahasiswa dan dosen STKIP PGRI Sumenep menggelar ‘panggung demokrasi’, menyikapi situasi politik Indonesia belakangan ini. Sambil berorasi, mahasiswa membentangkan spanduk putih panjang bertuliskan: Panggung Demokrasi. Jaga demokrasi, selamatkan negeri.
“Demokrasi negeri ini mulai carut marut. Ada intimidasi saja sini menjelang Pemilu. Sebagai insan kampus, kami tidak akan tinggal diam. Aksi ini aksi moral kami,” kata salah satu orator, Fathor Rosy, Selasa (06/02/2024).
Ia mengungkapkan, mimbar demokrasi ini merupakan suara civitas akademika melihat kondisi demokrasi hari ini. Sebagai insan akademis, mahasiswa merasa ikut punya tanggung jawab untuk menjaga demokrasi dan menyelamatkan negeri. “Kami tidak mau Pemilu menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Masyarakat harusnya hepi. Pemilu ini pesta demokrasi yang mengedepankan azas ‘luber jurdil,” ujarnya.
Dalam mimbar demokrasi itu, Ketua STKIP PGRI Sumenep, Asmoni membacakan petisi jaga demokrasi. Ada beberapa poin dalam petisi itu. Diantaranya, mendorong semua pihak untuk bersama-sama menciptakan demokrasi sehat ber-azas Pancasila dan UUD 1945.
Selain itu, civitas akademika STKIP PGRI Sumenep mengajak seluruh peserta Pemilu, menjaga proses demokrasi yang berlandaskan nilai etika. Kemudian meminta KPU, Bawaslu, dan DKPP bekerja profesional sesuai aturan yang berlaku, indipenden, adil, jujur, tanpa intervensi pihak manapun.
“Mimbar akademik ini sesuatu yang wajar di lingkungan kampus untuk menyikapi sesuatu. Nah, berangkat dari pemikiran bersama dan masukan dari mahasiswa serta para dosen, kenapa tidak untuk kita menggelar mimbar demokrasi,” papar Ketua STKIP PGRI Sumenep, Asmoni.
Ia berharap agar Pemilu 2024 berjalan lancar dan benar-benar mengedepankan azas ‘Luber Jurdil’. “Elemen masyarakat boleh ikut mengawal pesta demokrasi ini agar benar-benar jujur dan adil,” tandasnya. (tem/kun)






