Surabaya (beritajatim.com) – Belakangan, kasus kekerasan seksual menjadi bahan perbincangan yang ramai di berbagai lini media masa dan media sosial. Korbannya pun beragam. Mulaid dari mahasiswa sampai anak-anak di bawah umur.
Tentu hal ini mengkhawatirkan. Terutama ketika anak-anak kita yang masih di bawah umur berpotensi menjadi korbannya. Para pelaku kekerasan seksual dan pedofilia ini biasanya menggunakan teknik Child Grooming untuk mendekati korban.
Child grooming merupakan upaya mendekati dan membangun hubungan antara orang dewasa sebagai pelaku dengan anak dibawah umur sebagai korban. Salah satu dampak yang bisa ditimbulkan dari adanya child grooming yaitu kekerasan seksual pada anak.
Anak-anak yang berada pada masa yang paling rentan sehingga dengan kondisi emosional yang belum stabil, serta pemahaman yang belum matang, anak bisa menjadi santapan paling mudah untuk para pelaku pelecehan seksual. Perilaku ini biasanya diawali dengan manipulasi dan janji-janji orang dewasa dengan mudah bisa membuat anak menjadi tak berkutik.
Child grooming merupakan sebuah upaya dari orang dewasa untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional dengan seorang anak atau remaja, sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi, bahkan melakukan kekerasan seksual. Anak menjadi target paling rentan dalam praktik grooming lantaran pemikiran anak yang belum matang serta tidak stabil.
Dengan adanya perkembangan teknologi, proses dalam melakukan child grooming bisa dilakukan secara online melalui sosial media. Ada beberapa hal yang mendasari child grooming yaitu sebagai berikut:
Pertama, manipulasi
Ada dua hal dalam manipulasi. Pertama, pelaku akan memberi pujian atau rayuan pada korban sehingga korban akan merasa spesial dan dicintai. Kedua, biasanya pelaku bisa mengintimidasi korban sehingga korban akan merasa takut.
Kedua, Aksesibili
Kemudahan akses internet yang ada membuat pelaku dengan bebas mencari korban.
Ketiga, Rapport Building
Pelaku biasanya akan mencari tahu ketertarikan dan keadaan sekeliling korban dan berusaha membuat korban nyaman. Pelaku akan meminta korban untuk merahasiakan hubungan agar korban merasa lebih teristimewakan.
Keempat, Konteks seksual
Pelaku akan memancing korban dengan hal-hal berbau seksual agar korban tertarik untuk memulai hubungan seksual dengan sang pelaku.
Kelima, Penilaian risiko
Pelaku mengantisipasi teknologi dan logistik yang digunakan misalnya dengan alamat ip berbeda, pelaku menahan diri untuk berkomunikasi dengan korban di area publik. Biasanya pertemuan korban dan pelaku jauh dari lingkungan korban,
Keenam, Penipuan
Pelaku menyamar menjadi teman sebaya korban agar korban bisa lebih percaya. Sehingga pelaku dengan mudah memanipulasi korban.
Trauma psikologis korban child grooming termasuk dalam kekerasan seksual, apapun tujuannya dan bagaimanapun bentuknya. Hal tersebut akan menimbulkan trauma yang sangat besar pada korban.
Bahkan dilansir dari Situs South Eastern CASA dampak psikologis yang dapat ditimbulkan akibat pelecehan seksual pada anak sangat beragam. Oleh sebab itu, pahami ciri tersebut, kemudian cegah dengan terus memantau apa yang dilakukan anak baik di dunia nyata maupun maya. [dan/tur]






