Surabaya (beritajatim.com) – Security gempal yang dikenal kuat dan ditakuti di sekitar rumahnya, dibuat menangis karena penjahat. Kehilangan motor di tempat kerja mengguncang hatinya. Lalu bahagianya dimulai dari bandit curanmor yang tertangkap meski hampir lolos.
Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar bahagia. Dengan tubuh gempal dibalut pakaian warna biru tua dengan cukuran rambut cepak ala tentara, ia mengucapkan rasa terima kasihnya kepada tuhan. Bahagianya tak bisa dibendung. Ia lalu memeluk istrinya dengan erat. “Alhamdulillah ya allah motor saya ketemu. Matur nuwun pak polisi,” teriak Andre Nurcahyo (31) di rumahnya jalan Kapas Jaya.
Bapak dengan 5 anak itu baru saja menjadi korban pencurian kendaraan bermotor, Kamis (06/07/2022) dini hari di tempat kerjanya Jalan Ngagel. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai security serabutan itu sempat menangis ketika mengetahui motornya hilang. Ia menangis karena sepeda motor itu adalah satu-satunya benda berharga yang ia miliki.
“Saya baru gajian itu mas dapat uang 1,5 juta. Biasanya saya jam 2-4 subuh itu ga berhenti keliling untuk pengamanan. Tapi, hari ini tadi saya ga keliling karena kepikiran anak saya daftar sekolah,” tutur warga Tambaksari itu.
Andre mengaku jika Honda Vario putih miliknya sering diparkir di tempat yang tidak resmi. Ia mengaku, di tempatnya ia bekerja walaupun karyawan tetap harus membayar parkir sebesar Rp6000. Dengan gaji hanya Rp1,5 juta sebulan dan beban keluarga dengan 5 anak, Andre merasa jika biaya parkir yang diterapkan terlalu mahal.
“Setiap rupiah yang saya keluarkan itu berharga mas. Bahkan ketika saya ada waktu lowong itu saya jadi Ojol untuk menambal kekurangan biaya hidup,” kata Andre dengan mata sembab.
Ketika mengetahui motornya raib, ia merasa separuh nyawanya menghilang. Ia menangis di tempat kerjanya. Ia lantas memberanikan diri menelpon istrinya di rumah untuk mengabarkan jika motornya dicuri. Istrinya tak percaya dan mengira jika Andre hanya bercanda. Andre pun langsung mematikan teleponnya. Ia lantas berpamitan kepada manajernya jika hari ini adalah hari terakhir ia bekerja.
Dengan suara bergetar, ia berpamitan karena mengetahui dirinya tidak akan bisa berangkat ke menjadi security lagi di sebuah cafe Jalan Ngagel. Ia tak mungkin jalan kaki sejauh 6 km setiap harinya untuk bekerja demi uang Rp1,5 juta perbulan. “Kalau saya naik gojek juga tidak mungkin mas. Disini saya juga ga ada saudara. Mau minta tolong ke siapa,” imbuh Andre.
Andre lantas meminta pertolongan kepada temannya untuk mengantarkan pulang. Di sepanjang jalan ia hanya bisa menangis dan menyesali kenapa ia tidak berpatroli seperti biasanya. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Sampai dirumah, ia memeluk istrinya sembari menyalahkan tuhan atas nasib apes yang dialami. Jam menunjukan pukul 02.20 pagi. Ia terus meminta maaf kepada istrinya di ruang tamu dengan ukuran 4×6 meter.
Sampai pukul 03.13 iya tetap di ruang tamu. Istrinya hanya bisa menenangkan agar tangisan getir seorang ayah tidak terdengar 5 anaknya yang sedang terlelap tidur. Pukul 03.30 pintu rumahnya diketuk seseorang yang tidak ia kenali. Segera, ia menghapus air matanya. Sebagai seseorang yang dikenal bekerja security, pantang bagi Andre terlibat lemah di hadapan tetangganya.
Setelah ia membuka pintu, pria yang tidak ia kenali itu mengaku dari Polsek Simokerto. Ia heran, kenapa petugas kepolisian datang ke rumahnya pada dini hari. “Ternyata saya dikabari jika motor saya ketemu. Disitu saya menangis lagi mas. Bahagia saya. Ternyata gusti Allah masih sayang sama saya,” kata Andry dengan suara yang kembali bergetar.
Berbekal BPKB motor yang ia simpan rapi di kresek hitam lemarinnya, Ia pun berangkat ke Polsek Simokerto dengan jantung yang berdebar. Berharap, motor yang ditemukan oleh anggota Polsek Simokerto memang motornya. Sampai di Polsek Simokerto, ia langsung bisa mengenali jika motor yang baru saja diamankan oleh Polsek Simokerto adalah motornya.
Guratan hitam bekas senggolan di body kanan jadi tanda khusus yang ia ingat. Ia loncat-loncat dan menyalami anggota Polsek Sukolilo yang ada di ruangan SPKT saat itu. Ia tak menyangka, motor yang telah menemani perjalan hidupnya selama 10 tahun kembali.
“Ini teguran Gusti Allah buat saya. Saya mengira jika selama ini saya tidak bahagia karena miskin. Namun dari peristiwa ini saya belajar, jika Allah membuat saya bahagia tanpa menambah jumlah harta saya,” tutup Andri dengan senyum bahagia. (ang/kun)
BACA JUGA:






