Sidoarjo (beritajatim.com) – Banjir hebat yang melanda Perumahan Pondok Tjandra (Potjan), Waru, Sidoarjo pada malam Natal, Selasa (24/12/2024), menjadi pengalaman terburuk selama hampir tiga dekade bagi warganya.
Abdul Hamid, salah satu sesepuh komplek Palem Potjan mengungkapkan bahwa banjir kali ini mencapai ketinggian sepaha orang dewasa dan tidak kunjung surut hingga berhari-hari.
“Selama 28 tahun saya tinggal di sini, ini banjir yang paling parah. Sebelumnya memang pernah banjir, tapi tidak setinggi ini dan biasanya cepat surut bahkan hitungan jam. Kemarin bisa 2 hari baru surut,” kata Hamid, Senin (30/12/2024).
Situasi diperparah dengan lambatnya respons dari pemerintah setempat. Hamid mengungkapkan bahwa bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun petugas pemadam kebakaran tidak segera datang, padahal kondisi di lapangan sangat mendesak.
Banyak warga lanjut usia yang memerlukan evakuasi menggunakan perahu karet, namun keterlambatan ini membuat warga harus berjuang sendiri. “Aparat dan pemerintah lamban sekali, nggak ada pertolongan cepat dari BPBD atau damkar. Padahal banyak orang tua yang harus dievakuasi pakai perahu karet,” keluh Hamid.
Banjir ini tidak hanya merendam rumah-rumah warga, tetapi juga memutus aktivitas harian. Hal itu membuat warga kesulitan mendapatkan akses makanan dan air bersih. Kondisi ini menambah keresahan, terutama menjelang perayaan Natal yang seharusnya berlangsung damai dan penuh sukacita.
Hamid berharap pemerintah daerah segera mengevaluasi sistem penanganan banjir di kawasan tersebut. Menurutnya, perlu ada langkah pencegahan yang lebih serius agar musibah serupa tidak terjadi lagi di masa depan.
“Kami berharap pemerintah lebih tanggap. Jangan tunggu bencana besar baru bergerak. Warga sudah lelah menghadapi banjir setiap tahun,” tutup Hamid. [asg/suf]






