Kediri (beritajatim.com) – Petugas Pemilu 2024 yang tumbang karena kelelahan terus bertambah. Kali ini dialami Triyono, anggota KPPS Desa Sambirejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.
Terlalu bersemangat dalam menjalankan tugasnya sebagai petugas KPPS hingga Triyono kelelahan dan mengalami vertigo. Pria 48 tahun itu pun dirawat klinik kesehatan.
Triyono harus menjalani rawat inap di Klinik Utama Rawat Inap Media Utama Kabupaten Kediri. Bersyukurnya, ia telah memiliki Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Sebelum subuh itu kita sudah disiapkan sarapan. Tetapi pekerjaan kita belum selesai. Setelah selesai, kan harus kita setorkan ke Balai Desa. Karena terlalu bersemangat, mau sarapan itu lupa,” kata Triyono, pada Senin (19/2/2024).
Bersama satu tim KPPS, Triyono datang ke Balai Desa. Sebelum tumbang, ia sempat minum minuman dingin yang dibelikan salah satu temannya.
“Kita semua satu tim ke Balai Desa, salah satu tim saya ada yang membeli minuman dingin, kemudian saya minum. Selang satu menit saya tumbang,” terangnya.
Tubuh Triyono yang tidak fit karena aktivitas yang padat membuatnya tak seperti biasa. Mengaku kuat, tapi tubuhnya tidak mampu lagi mentolerir kondisi itu, sehingga butuh perawatan.
“Selain capek fisik, capek pikiran, perut juga belum terisi, sekalinya terisi air dingin. Saya biasanya kuat, tetapi pada saat itu fisik saya sudah tidak tahan lagi, sampai drop, pusing, keringat dingin, saya tidak berani berdiri,” imbuh Triyono.
Beruntung Triyono tak sampai jatuh pingsan. Namun ia tidak berani membuka mata karena merasa teramat pusing.
Teman sesama KPPS langsung memberi pertolongan dengan membawa Triyono ke klinik. Setelah diperiksa, dokter mendiagnosa sakit vertigo.
Selama tiga hari Triyono dirawat. Meski pasien BPJS Kesehatan, tapi petani ini mengaku memperoleh pelayanan yang setara dengan pasien lain.
“Saya tiga hari rawat inap, hari Sabtu sore keluar rumah sakit. Pelayanannya sangat baik. Saya tidak menunggu lama, langsung ditangani. Tempatnya juga nyaman. Di sana kelas tiga sekamar empat orang, saya tidak merasa dibedakan dengan pasien lainnya,” jelasnya.
Triyono mengaku tidak mengeluarkan biaya tambahan. Termasuk biaya untuk obat-obatan yang dikonsumsi.
Jika tak memakai JKN, Triyono mengaku, gajinya sebagai petugas KPPS yang bakal dipakai untuk berobat.
“Kalau tidak punya JKN ya gaji sebagai petugas KPPS saya yang saya akan gunakan untuk biaya berobat,” ucapnya.
Triyono tercatat sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI). Dia mengakui, mendapatkan manfaat dari JKN bagi petugas KPPS yang bekerja 24 jam selama pemilihan.
“Bersyukur sekali ada yang membantu biaya berobat saya. Seharusnya memang harus ada jaminan kesehatan untuk petugas KPPS. Sebab memang setiap rangkaian Pemilu itu membutuhkan waktu yang panjang untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Bisa terhitung sehari semalam. Apalagi usia empat puluh tahun keatas, pasti rentan sakit. Sangat perlu ada JKN itu,” tegasnya.
Triyono mengaku kondisinya telah membaik. Kendati demikian, dokter tetap mengharuskannya minum obat. Kini dia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Dia berterima kasih kepada pemerintah dengan adanya program JKN. [nm/beq]






