Tuban (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Tuban menggelar Succes Story Lomba Inovasi dan Replikasi Inovasi Pelayanan Publik, Rabu (29/11/2023). Program ini dalam rangka pencegahan dan percepatan penanganan stunting di Kabupaten Tuban.
Ada 3 pemenang yang meraih inovasi terbaik. Ketiganya diberi penghargaan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban, Dr. Ir. Budi Wiyana.
Para pemenang pun menceritakan latar belakang lahirnya inovasi yang dikembangkan untuk pencegahan dan percepatan penanganan stunting di Kabupaten Tuban. Juara pertama lomba inovasi dan replika pelayanan publik dari RSUD dr R Koesma dengan inovasi Butik Asi (Ibu Cantik Dengan ASI Eksklusif).
Atas raihan itu, Direktur RSUD dr R Koesma, dr Mohammad Masyudi menjelaskan latar belakang inovasi berangkat dari kepedulian tenaga kesehatan perihal pemberian ASI eksklusif kepada bayi selama 6 bulan.
Menurutnya, menjadi tenaga kesehatan juga melakukan edukasi kepada orang tua dan keluarga bahwa pemberian asi kepada bayi sangat diperlukan untuk mencukupi kebutuhan gizi bayi. Petugas melakukan pendataan ibu yang melahirkan di rumah sakit yang kemudian data tersebut dikirimkan ke Dinkes P2KB Tuban. Tujuannya agar dapat diteruskan ke Puskesmas maupun kader kesehatan di tingkat terendah.
“Ini adalah kolaborasi seluruh insan kesehatan pada berbagai sektor,” ucap Masyudi.
Juara dua diraih oleh Dinkes P2KB dengan inovasi Canting Besi (Cegah Stunting Dengan Benahi Stunting) yakni Administrator Kesehatan Ahli Muda pada Dinkes P2KB Tuban, Ike Mairina Amd. KL. Dia menjelaskan inovasi Canting Besi didasari masih rendahnya Desa ODF (Open Defecation Free) yang berpengaruh terhadap tingginya angka stunting.
“Adanya Canting Besi diharapkan mampu menurunkan kasus stunting melalui peningkatan atau perbaikan sanitasi,” ujar Mairina.
Menurutnya, pelaksanaan Canting Besi melibatkan sejumlah instansi pemerintah, Baznas dan partisipasi desa. Selain itu, juga dilakukan edukasi kepada masyarakat tentang berperilaku hidup bersih dan sehat.
“Komitmen menjaga kebersihan lingkungan akan mampu mendukung penanganan stunting,” tutur dia.
Selanjutnya, juara ketiga ditempati Puskesmas Merakurak dengan inovasi Ceting Mening (Cegah Stunting dengan Gerakan Menu Isi Piringku) yakni Kepala Puskesmas Merakurak, dr. Reinnidha Puspita Sari. Menurut Reinnidha, inovasi Ceting Mening memiliki filosofi makna pada namanya.
BACA JUGA:
Peringati Hari Guru, Bupati Tuban Komitmen Sejahterakan Guru Honorer
Penamaan Ceting berarti centong yaitu alat mengambil nasi. Sedangkan, Mening memiliki makna sempurna. Dari filosofi tersebut, pihaknya berfokus pada penanganan stunting dengan menitikberatkan pada menu gizi harian berimbang bagi balita.
Pelaksanaan Ceting Mening, menurut Reinnidha, melibatkan pihak pemerintah kecamatan, organisasi, pemerintah desa, dan insan kesehatan. “Petugas kesehatan juga akan memberikan pemahaman tentang cara penyajian menu isi piring dengan makanan bergizi berimbang,” tutupnya. [ayu/but]







