Surabaya (beritajatim.com) – Tumbuh kembang anak di masa awal-awal setelah lahir memang sangat penting. Sebab, terpenuhinya gizi anak di awal kelahiran akan berpengaruh pada fase-fase pertumbuhan otak dan organ pada anak.
Banyak cara yang telah dilakukan untuk memperkecil presentase stunting pada bayi. Namun, angkanya hingga saat ini masih tetap tinggi. Selain minimnya pengetahuan gizi anak oleh orang tua, kesehatan orang tua ketika hendak memiliki anak juga sangat penting.
Hal ini yang kemudian coba di manfaatkan oleh pemerintah Indonesia demi mencegah stunting pada anak. Caranya melalui pemeriksaan dini kesehatan calon orang tua ketika pra nikah.
Dilansir dari riset Riskesdas 2018, diketahui 1 dari 3 batita maupun balita di Indonesia menderita stunting. Tidak hanya itu, pemahaman masyarakat terhadap bahaya dari stunting tidak kalah mengkhawatirkan. Tercatat juga sebanyak 12.2% yang memiliki pemahaman yang baik, 40.6% cukup, dan 47.2% kurang paham.
Stunting sendiri diartikan sebagai kekurangan gizi kronis pada bayi di 1000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Isu stunting ini menjadi penting lantaran beberapa hal.
Stunting berpotensi mengganggu potensi sumber daya manusia dan berhubungan dengan tingkat kesehatan, bahkan kematian anak. Terlihat dari Hasil dari Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) menunjukkan bahwa terjadi penurunan angka stunting berada pada 27,67 persen pada tahun 2019.
Meski terbilang menurun, namun angka tersebut masih dinilai tinggi, WHO menargetkan angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen. Dikutip dari Data World Bank menyatakan angkatan kerja yang pada masa bayinya mengalami stunting mencapai 54%. Artinya, sebanyak 54% angkatan kerja saat ini adalah penyintas stunting.
Cegah stunting pada anak ini bisa dilakukan sejak masa pra nikah. Setiap pasangan yang akan menikah dan ingin memiliki anak, Hasto Wardoyo, Kepala BKKBN menjelaskan jika, perlu memastikan kondisi tubuh mereka baik dan siap untuk bereproduksi.
Oleh sebab itu, BKKBN menggagas program yang dinamakan pre konsepsi. Pre Konsepsi sendiri adalah program ini menyerukan pentingnya tiga bulan sebelum perempuan dan laki-laki menikah untuk memeriksakan terlebih dahulu kondisi fisik dan kesehatan reproduksi mereka.
Bila diketahui mengalami nutrisi rendah atau anemia, dalam waktu tiga bulan, seorang perempuan bisa mengoreksi dan memperbaiki kondisi kesehatannya terlebih dulu sebelum menikah atau punya anak. Dari hal itu bisa dideteksi apakah calon pengantin punya faktor risiko melahirkan anak stunting atau tidak.
Jika sudah diketahui resikonya, ada kesempatan setidaknya 3 bulan untuk memperbaiki kondisinya dengan pendampingan. Harapan utamanya pada saat akan menikah sudah berada dalam kondisi ideal sehingga mencegah terjadi stunting. [dan/tur]






