Sorong (beritajatim.com) – Selalu ada anomali dari sekumpulan orang yang berduyun-duyun ke arah yang sama. Kali ini ketekunan seorang pensiunan menyambut kedatangan air bersih ke desanya ketika warga yang seharusnya semangat malah kurang menaruh minat. Jika berhasil, ia akan membawanya air ke kamar tidurnya.
“Kalau air su keluar, sa bawa masuk kamar. Sa tidur sama air. (Kalau air sudah keluar, saya bawa masuk kamar. Saya tidur sama air),” kata Arnold Mambrasa (58), warga Dusun Maladuk, Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pertamina”]
Ucapan itu mengandung harapan sekaligus kekesalan terhadap generasi muda desanya.
Arnold dan semua warga sebenarnya sudah lama mendambakan kehadiran air bersih agar bisa mengairi kampungnya. Namun keinginan belum didukung oleh kinerja yang semangat bagi semua warga. Harapan Arnold pada generasi muda untuk punya inisiatif membangun kampungnya.
“Sa su tua. Sa tinggal menikmati masa pensiun. Tra butuh apa-apa lagi. (Saya sudah tua. Saya tinggal menikmati masa pensiun. Tidak membutuhkan apa-apa lagi),” tambah Arlnold.
Arnold pernah bekerja di PT Pertamina EP Papua Field lalu pensiun. Ia sebenarnya sudah mendapatkan akses air bersih sejak tahun 1998 sebagai salah satu fasilitas dari perusahaan. Namun hal itu tak menjadikan Arnold selesai untuk tak memikirkan agar air bersih bisa masuk ke kampungnya dan dinimati oleh warga.
Arlnold mengatakan, sejak 76 tahun Indonesia merdeka, kampungnya belum bisa mengakses air bersih. Kampungnya ‘belum merdeka’ jika kemerdekaan adalah mendapatkan hak atas kebutuhan dasar manusia: air bersih.
Maka ketika PERI BERDAYA (Program Peningkatan Sarana Air Bersih Berbasis Pemberdayaan Masyarakat) PT Pertamina Papua Field mengadakan inovasi untuk membuat Biosand Water Filter Komunal tahun 2020, Arnold paling bersemangat di antara warga lainnya.

“Om Arnold ini yang paling bersemangat untuk membantu pekerjaan kami. Mulai dari saat pengerjaan teknis hingga belajar untuk mengoperasikan,” kata Hariyanto, Communication Relation & Community Involvement and Development PT Pertamina EP Papua Field.
Semangat inilah yang menjadikan tim PT Pertamina melatih Arnold lalu Markus Kondologit untuk mengoperasikan sistem. Semangat dari PERI BERDAYA bukan sekadar menghadirkan air bersih namun ada proses pemberdayaan dan harapannya inisiatif warga dalam pengadaan air bersih tersebut. Gerakan sosial dan komunal ini yang diharapkan tumbuh di masyarakat.
Arnold sudah berupaya untuk mengajak pemuda kampung namun agaknya mereka belum berminat untuk turut serta. Namun Arlnold percaya, jika air itu betul-betul sudah masuk ke rumah mereka, sudah ada hasilnya, maka pemuda lainnya akan tertarik. “Kalau bukan sa, siapa lagi? Harus ada yang gerak,” kata Arnold ketika ditanya alasannya masih tetap semangat mengupayakan air bersih ini.
Hal itu terbukti, tahun 2021 ketika air pertama kali memancar dari biosand water filter komunal, Arlnold mungkin orang yang paling pertama tersenyum selain anak-anak yang belum pernah mandi dengan air bersih di halaman rumahnya. Bahkan saking bahagianya, Arlnold mengatakan akan tidur bersama air untuk menunjukkan pada para generasi muda, bekerja keraslah maka akan menuai hasil meski awalnya kelitan tak mungkin.
Kegigihan Arlnold layak menjadi catatan dan pembelajaran akan semangat yang tak surut. Di balik kesederhanaan dan pendidikan yang hanya sampai SD, Arnold mampu menguliahkan 6 anaknya. Ketika ditanya, darimana ia mendapatkan biaya. “Sa pu sapi. Sa berladang. Sa melakukan semuanya. (Saya punya sapi. Saya berladang. Saya melakukan semuanya),” ujarnya.
Sebagaimana warga kampung itu, pertanian yang diharapkan bukanlah pertanian yang menjanjikan. Mereka menanam pisang, kaspi (singkong), dan betatas (ubi jalar) dengan hasil yang tak menentu. Berharap dari belas kasihan hujan untuk menumbuhkan tanamannya.
Ketika kemarau menerjang, maka ladang mereka tak menghasilkan. Beberapa warga akan berpindah menanam di lahan yang masih bisa ditanami. Sementara Arnold, saat kemarau panjang, ia masih tetap merawat sapi-sapinya.
Ia pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa dua ekor sapi. Dirawat baik-baik sehingga beranak pinak dan bisa digunakan untuk membiayai anak-anaknya. “Sa pu sapi lima ekor,” katanya sambil menunjukkan sapi yang merumput bebas di lahan.
Distrik Klamono sebagian besar terdiri dari tanah rawa yang ditumbuhi rumput tebal. Sebetulnya kalau mau rajin merawat sapi, mereka tak kekurangan pakan. Namun tak semua warga mau bertabah hati untuk merawat ternak. Maka orang seperti Arnold layak menjadi catatan tentang ketekunan dan keberhasilan. [suf]







