Surabaya (beritajatim.com) – Kasus pria menikahi lebih dari satu wanita mungkin umum terjadi. Tetapi, menikah dengan calon istri kembar, tentu jadi kasus yang aneh.
Itulah yang dilakukan pria asal Kongo, Luwizo (32). Dia menggelar prosesi pernikahan dengan tiga istri sekaligus yang juga saudara kembar.
Tiga perempuan itu, Natasha, Natalie dan Nadege adalah kembar identik. Bak ketiban duren, Luwizo bisa jadi pria beruntung dan mereka berempat memutuskan untuk tinggal bersama.
Dikutip dari Odditycentral.com, kisah mereka berempat bermula saat Luwizo kopi darat dengan Natalie. Sebelumnya, keduanya saling kenal dan jatuh cinta di media sosial.
Menariknya, pernikahan Luwizo dengan Triplets Sister itu dipicu pengalaman buruknya di masa lalu. Dia sering ditipu oleh dua saudara perempuannya yang lain dengan berpikir akan bertemu dengan pacarnya.
Dia diduga tidak bisa membedakan kembar tiga yang identik, dan mereka akhirnya jatuh cinta pada Luwizo. Ketika ketiganya mengungkapkan ingin jadi istri Luwizo, dia tidak bisa menolak.
“Awalnya, ketika kami mengatakan dia harus menikahi kami semua, dia terkejut. Tapi karena dia sudah jatuh cinta pada kami semua, tidak ada yang bisa menghentikan rencana kami karena kami juga mencintainya,” kata Natalie.
“Meskipun orang menganggap tidak mungkin tiga wanita berbagi satu suami, tetapi bagi kami, berbagi segalanya adalah hidup kami sejak kecil,” ucap dia melanjutkan.
“Saya hampir pingsan,” kata Luwizo.
“Aku bertanya kepada mereka di antara kalian semua, siapa Natalie? Mereka memberi tahu saya bahwa saya telah bertemu mereka semua pada hari yang berbeda saat saya berkunjung. Saya menjadi bingung karena saya telah merencanakan untuk menikahi Natalie, tetapi yang membuat saya bingung adalah saya tidak dapat menikahi salah satu gadis dan meninggalkan keduanya,” terang dia.
Keputusan Luwizo untuk berpoligami ternyata tidak disukai oleh keluarganya. Orangtuanya diduga “membenci” dia karena itu.
Mereka bahkan tidak mau menghadiri upacara pernikahan. Sementara saudara perempuannya membutuhkan waktu untuk berpikir, meski akhirnya mendukung keputusan pria itu. (adg/beq)






