Malang (beritajatim.com) – Penyelenggaraan Musyawarah Olahraga Kota (Musorkot) KONI Kota Malang akhirnya ditunda. Hal ini dilakukan menyusul mayoritas cabang olahraga ingin agar Musorkot dilakukan sesuai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) KONI Kota Malang.
Ketua KONI Kota Malang Eddy Wahyono menuturkan setelah penundaan ini dirinya menunggu Surat Keputusan dari KONI Provinsi Jatim terkait perpanjangan massa bakti dirinya. Setelah itu akan membahas kelanjutan musorkot yang tertunda ini.
“Jadi masih taraf sidang awal, saya mencoba mengakomodir apa yang menjadi dinamika. Supaya ini baik semuanya jadi tidak ada istilahnya kalah menang. Saya mencoba meluruskan semuanya supaya mulai detik ini membuat pondasi organisasi yang lebih baik lagi,” ujar Eddy.
[berita-terkait number=”5″ tag=”KONI-Malang”]
“Tentunya saya akan menunggu Surat Keputusan dari Provinsi terkait perpanjangan massa bakti saya. Karena Desember ini habis kalau kita berbicara satu bulan lagi kan tidak bisa,” imbuhnya.
Bakal calon Ketua KONI Kota Malang Djoni Sudjatmoko menganggap keputusan penundaan Musorkot cukup tepat. Apalagi keinginan penundaan semata demi menyelamatkan organisasi dari pelanggaran administrasi dan hukum jika tidak sesuai AD/ART.
“Jadi KONI ini sebagian besarnya menggunakan anggaran pemerintah. Nah supaya tidak bermasalah dengan administrasi dan hukum. Itu kan prosesnya harus benar dengan aturan perundangan yang ada dan AD/ART yang ada,” papar Djoni.
Djoni menuturkan bahwa tidak ada persoalan atas penundaan ini. Apalagi keputusan ini disetujui oleh mayoritas cabor. Bahkan dia mengatakan siapapun nantinya yang terpilih. Paling penting proses Musorkot harus dilalui dengan benar.
“Kalau melanggar AD/ART itu akan menjadi persoalan legitimasi dari hasil musorkot ini. Jadi itu bagus buat semua, tidak ada permasalahan lah kalau soal tertunda cuma dua atau tiga minggu sesuai AD/ART. Itu dilalui saja, jadi legitimasi kuat. Siapapun yang bakalan jadi itu terserah dari cabor yang ada,” tandas Djoni. (luc/kun)






