Surabaya (beritajatim.com) – Butet mengusulkan pendidikan kebudayaan di proyek IKN. Seniman bernama asli Bambang Ekoloyo Butet Kartaredjasa itu menyampaikan usulannya di FGD Pengembangan Seni dan Budaya yang diselenggarakan oleh Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) di Hotel Vasa, Jl HR Muhammad, Jumat (8/9/2023).
Menurut seniman asal Yogyakarta itu, selama ini pemerintah fokus dengan pembangunan fisik IKN di Kalimantan Timur dan lupa dengan pembangunan manusia, seni serta budayanya. Padahal sebagai ibu kota Indonesia nantinya diperlukan akar kebudayaan yang kuat. Hal itulah yang mendasari FGD bersama para akademisi hari ini.
“Jakarta itu menjadi ibukota punya akar budaya yang kuat. Kita bisa bayangkan hutan yang kosong diisi ribuan manusia akar kebudayaannya berbagai macam. Jika tidak dipikirkan akan berbahaya,” ujar Butet.
Menurutnya di IKN nanti tidak boleh ada budaya yang mendominasi. Apalagi sampai mengganggu budaya lokal. Saat ini, di Kalimantan Timur sudah ada beberapa kebudayaan dan adat istiadat dari Kutai, Jawa, Bugis, Dayak dan kebudayaan lainnya yang sudah hidup berdampingan.
“Tidak boleh ada kesenjangan sosial dan ekonomi. Kawan-kawan sosiolog sudah mendirikan kampung ilmu. Yang boleh mendominasi adalah Nusantara,” imbuh seniman berusia 61 tahun itu.
BACA JUGA:
Ini Rekomendasi PII Cabang Gresik terhadap Pembangunan IKN
Atas dasar hal-hal yang sudah dibahas, Butet lalu menciptakan tarian Nusantara Etam. Tarian itu juga sudah dipresentasikan kepada presiden Jokowi di istana negara beberapa waktu lalu. Di FGD hari ini, Butet juga memutar kembali video tarian Nusantara Etam.
“Tadi diputar dan ada budayawan dari Kalimantan merasa klop. Nusantara Etam adalah gabungan dari beberapa kebudayaan. Sehingga spiritnya adalah spirit nusantara,” tutup Butet.
BACA JUGA:
Kunci Utama Masa Depan Ibu Kota Nusantara adalah Insinyur
Sementara itu, Zainal Dharma Abidin Budayawan Kalimantan Timur yang turut hadir merasa nantinya di IKN akan timbul budaya-budaya baru. Namun, dirinya tidak khawatir akan anggapan budaya lokal akan hilang setelah Ibu Kota dipindah di Kalimantan Timur.
“Undang-Undang memungkinkan agar kebudayaan terus maju ditengah peradaban. Kita tidak khawatir karena kita punya filter yang sudah kuat,” tutupnya. [ang/suf]






