Sidoarjo (beritajatim.com) – Jumlah inovasi yang lahir di Kabupaten Sidoarjo sepanjang tahun 2026 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2025 tercatat sebanyak 262 inovasi, maka pada tahun 2026 melonjak menjadi 382 inovasi yang berhasil diciptakan oleh berbagai instansi.
Bupati Sidoarjo, Haji Subandi, meminta agar setiap inovasi yang dirancang tidak sekadar menjadi pelengkap laporan administrasi, melainkan memberikan dampak nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kalau pola kerja kita masih sama, kita harus berubah dengan inovasi. Namun, inovasi itu harus berkelanjutan dan memiliki hasil yang berdampak langsung kepada masyarakat,” ujar Subandi dalam acara Apresiasi Kontributor Inovasi Sidoarjo Tahun 2026 di Pendopo Delta Wibawa, Kamis (15/10/2026).
Subandi memaparkan bahwa tantangan pembangunan di Kabupaten Sidoarjo kian kompleks. Sejumlah indikator penting masih membutuhkan perhatian serius, seperti Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang berada di angka 6,49 persen, angka kemiskinan 4,40 persen, kenaikan prevalensi stunting dari 8,4 persen menjadi 10,6 persen, serta Indeks Kualitas Lingkungan Hidup sebesar 62,37.
Oleh karena itu, Subandi mendesak seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk terus mengembangkan inovasi yang presisi guna menjawab persoalan-persoalan tersebut. Ia juga menegaskan agar tujuh perangkat daerah yang tercatat belum melaporkan inovasinya segera melakukan evaluasi internal.
Soroti Program ODL Sekolah, Penanganan Stunting, dan Inovasi Tali Asih
Di sektor pendidikan, Bupati Subandi secara khusus meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sidoarjo untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan pembelajaran di luar kelas (outdoor learning/ODL) dan menghentikan sementara program tersebut pada tahun 2026.
Langkah ini diambil menyusul banyaknya laporan mengenai pelaksanaan ODL yang dinilai berpotensi menimbulkan beban serta persoalan bagi pihak sekolah maupun orang tua murid.
“Saya minta Dinas Pendidikan memberikan arahan yang jelas kepada sekolah. Jangan sampai kegiatan yang seharusnya memberikan manfaat justru menimbulkan persoalan di masyarakat,” tegasnya.
Terkait kenaikan angka stunting, Subandi menginstruksikan Sekda Sidoarjo beserta Dinas Kesehatan, dinas pengampu KB, hingga pemerintah desa untuk melakukan pemetaan berbasis data agar penanganannya lebih sistematis, termasuk melalui pengalokasian APBDes.
Di sela acara, Pemkab Sidoarjo turut menyerahkan penghargaan kepada sejumlah kontributor inovasi. Salah satunya diraih oleh Camat Krian, Kusdianto, melalui program Tali Asih. Inovasi ini menggalang donasi sukarela dari ASN dan perangkat kecamatan untuk membelikan alat bantu bagi lansia dan penyandang disabilitas.
“Dalam satu bulan minimal kami bisa menyerahkan satu hingga dua alat bantu bagi warga yang membutuhkan. Donasi ini murni sukarela dari ASN untuk melengkapi program bantuan dari Pemkab Sidoarjo,” tutur Kusdianto. (isa/but)






