Jember (beritajatim.com) – Kabupaten Jember, Jawa Timur, selama ini lebih dikenal sebagai daerah perkebunan yang dikembangkan pemerintah kolonial Belanda. Namun dalam acara Asok Gelondong Pangareng-areng atau sedekah hasil bumi, di alun-alun Jember, Sabtu (4/3/3023), Bupati Hendy Siswanto mulai membangun narasi Jember sebagai penerus Kerajaan Sadeng.
“Di Jember pada abad ke-14, berdirilah sebuah kerajaan bernama Kerajaan Sadeng. Dengan adanya Kerajaan Sadeng di Kecamatan Puger, tentunya Jember memiliki budaya yang luar biasa, memiliki kemampuan luar biasa,” kata Hendy, dalam pidatonya.
“Kita semua, masyarakat Jember, adalah keturunan Raja Sadeng yang sangat luar biasa pada saat itu. Saat itu Sadeng adalah kerajaan yang ditakuti. Berawal dari Kerajaan Sadeng dan dari rasa syukur kita kepada Allah SWT, kita konkretkan hari ini dengan sedekah hasil bumi,” kata Hendy.
BACA JUGA:
Bupati Jember Hendy Siswanto Tak Akan Tutup Kahyangan
Menurut Hendy, sedekah hasil bumi ini merupakan tradisi pada masa Kerajaan Sadeng. Hasil bumi itu dipersembahkan kepada adipati. “Saat ini adipatinya Hendy Siswanto,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.
Narasi gunungan sedekah hasil bumi ini, menurut Hendy, menunjukkan sinergi antara pemerintah dan petani. “Bukan hanya hasil pertaniannya, tapi bagaimana pemerintah membantu memasarkan dan mengeksplorasinya,” katanya.
“Budaya (gunungan) ini adalah bagian dari perekat tadi. Kalau kita sudah lalai dengan budaya ini, justru akan berisiko tinggi ke depan. Lima puluh tahun, seratus tahun lagi, bagaimana Jember ke depan?” katamya.
BACA JUGA:
Bupati Jember Berorasi di Atas Truk Komando Demo Sarbumusi
Sadeng adalah sebuah wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kecamatan Puger. Ia adalah sebuah kadipaten yang berani melawan hegemoni Kerajaan Majapahit. Perang Sadeng terjadi pada 1331, diperkirakan sekarang di Dusun Sadengan, Desa Gerendeng, Kecamatan Puger. Perang ini sekaligus menunjukkan kekuatan politik Gajah Mada.
Perang Sadeng, menurut sejarawan C.C. Berg, dipicu ketidakpuasan Dyah Sanggramawijaya, seorang kadehan (setara dengan pemimpin wilayah) di Sadeng, terhadap kebijakan politik Majapahit. Perang ini memaksa Ratu Tri Buwana Tunggadewi datang sendiri ke Sadeng untuk memimpin pasukan.
Pada akhirnya, Sadeng kalah. Namun, buku ‘Jember Dari Waktu ke Waktu’ menyebutkan, pemberontakan Sadeng telah menjadi momen sejarah yang sangat penting dan tak terlupakan bagi masyarakat Jember. ‘Sebagian masyarakat menganggap peristiwa ini sebuah pride atau kebanggaan, karena semangat ‘heroisme’ rakyat Sadeng yang berani melawan superioritas dan hegemoni Majapahit’. [wir/suf]






