Mojokerto (beritajatim.com) – Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Adipati Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto tengah mengembangkan budidaya melon premium jenis Inthanon dengan system greenhouse. Melon ala Sultan asal Belanda ini dirintis sejak 2022 lalu.
Dengan memanfaatkan lahan Tanah Kas Desa (TKP) Dusun Sugihan, Desa Japan diharapkan budidaya melon yang tergolong masih langka di Indonesia ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain itu, juga diharapkan dapat mengantarkan Desa Japan sebagai desa wisata kampung melon di Kabupaten Mojokerto.
Pendamping Bumdes Adipati, Imam Wahyu mengatakan, budidaya melon tersebut bermula dari program ketahanan pangan pada Maret 2022 lalu. Pembangunan greenhouse berukuran 20 meter x 8 meter dari anggaran Pemerintah Desa (Pemdes) sekitar Rp120 juta dengan populasi sekitar 400 pohon.
“Modal awal antara Rp6-7 juta. Metode penanaman mulai dari biji yang disemai sekitar 10 hari, setelah tumbuh tiga daun akan dipindahkan ke media tanam cocopeat polybag di dalam greenhouse. Pemindahan bibit ke polybag itu adalah HST atau hari setelah tanam yang usianya tiga hari,” ungkapnya, Rabu (6/12/2023).
Baca Juga: Budidaya Melon di Bojonegoro ini Bisa Jadi Contoh Bisnis Menguntungkan
Untuk penyiraman digunakan timer otomatis yakni semi Smart farming, namun belum sepenuhnya menggunakan teknologi pertanian. Budidaya melon premium saat ini telah memasuki musim tanam ketiga di akhir tahun 2023. Melon Inthanon berwarna kuning keemasan ini memiliki berat sekitar 800 gram sampai 1.600 gram.
“Namun karena lahan terbatas sehingga hanya menghasilkan 400 buah. Panen antara 70-80 hari setelah tanam dan target kita berat buah sampai 1600 gram. Panen awal harga buah melon sekitar 35 ribu per kilogram atau berbiji Rp50-Rp60 ribu. Pemasarannya melon langsung ke konsumen,” ujarnya.
“Budidaya melon jenis ini memiliki nilai ekonomis tinggi. Selama ini buah premium yang mudah dijangkau adalah melon, iklim di Mojokerto juga mendukung sangat cocok untuk budidaya melon,” jelas Kepala Dusun (Kasus) Daleman Utara, Desa Japan ini.
Sementara itu, pengurus Bumdes Adipati, sekaligus Kadus Daleman Selatan, M Andri Syakirin menambahkan, budidaya melon di Bumdes Adipati juga melibatkan masyarakat. “Untuk petani melon di greenhouse kita ambil dari masyarakat setempat sehingga memberdayakan warga Desa Japan,” tambahnya.
Adanya budidaya melon juga menggerakkan ekonomi, apalagi saat masa panen banyak dikunjungi wisatawan yang ingin petik buah melon. Ia berharap ada penambahan greenhouse yang bisa dimanfaatkan warga setempat sehingga diharapkan dapat menjadi pendorong perekonomian warga.
“Juga bisa menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) Desa Japan. Sehingga kita berharap greenhouse ditambah lagi untuk mengejar target hasil panen lebih banyak dengan kualitas yang bagus dan bisa jadi kampung melon. Karena dari masa panen ini efeknya juga lumayan di masyarakat,” ucapnya.
Greenhouse budidaya melon tidak hanya di lahan TKD melainkan juga dapat dikembangkan ke lingkungan warga hingga tingkat RT/RW. Selain diharapkan menjadi wisata petik melon, nantinya Bumdes Adipati juga akan mengembangkan buah melon untuk diolah menjadi produk oleh-oleh.
“Seperti minuman jus buah yang dijual ke pasaran. Otomatis ekonomi juga jalan berkat dampak dari greenhouse melon ini. Kita tetapkan menjaga agar greenhouse bisa terus produktif karena dampaknya sangat positif untuk masyarakat. Kalau di Kedungmaling ada kampung anggur, kita inginnya di Desa Japan ada kampung melon,” pungkasnya. [tin/ted







