Bangkalan (beritajatim.com) – Budidaya kedelai di Kabupaten Bangkalan saat ini masih minim peminat. Salah satu faktornya yakni tidak adanya patokan harga kedelai membuat petani masih mempertimbangkan penanaman bahan baku tahu dan tempe ini.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Dipertapahorbun) setempat, Puguh Santoso mengatakan, hingga saat ini pemerintah belum menetapkan harga minimun kedelai. Sehingga harganya fluktuatif.
“Selain itu, untuk budidaya kedelai ini juga memerlukan perlakuan ekstra terutama untuk lahan baru,” jelasnya, Rabu (5/5/2021).
Ia menjelaskan, penanaman kedelai juga memerlukan tambahan komposisi bakteri tertentu agar kedelai dapat tumbuh subur dan hasil panen dapat maksimal.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bangkalan”]
“Ada bakteri khusus untuk budidaya kedelai ini. Apalagi untuk lahan baru seperti di Bangkalan perlu adanya penanganan ekstra dibandingkan menanam padi dan palawija lainnya,” tuturnya.
Saat ini pihaknya memiliki lahan 185 hektare yang bisa digunakan untuk penanaman kedelai. Lahan itu tersebar di tiga kecamatan yakni Kecamatan Tanah Merah, Kwanyar dan Galis.
“Kalau untuk uji coba bisa dilakukan di lahan argo eduwisata kebun Bang Jani, disana ada lahan 3 hektare,” tandasnya. [sar/but]






