Surabaya (beritajatim.com) – Setelah 3 tahun vakum, Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (DPD HIMKI) Jawa Timur menyelenggarakan pemilihan kepengurusan untuk periode 2022-2025.
Musda yang diikuti oleh anggota asosiasi tersebut sebanyak 169 pelaku usaha mebel se Jatim ini juga mengungkap banyak potensi dan tantangan. Diantaranya diungkap oleh Ketua Presidium DPP HIMKI, Abdul Sobur, menyebutkan belum lama ini bahwa total ekspor mebel dan kerajinan Indonesia pada 2021 sangat menggembirakan senilai US$ 3,43 miliar (dengan pertumbuhan YOY 30%).
Walaupun pertumbuhan akibat Perang Dagang USA-CHINA ini cukup signifikan , pesaing utama kita Vietnam mampu merealisasikan ekspor mebel yang lebih besar (U$ 9,3miliar) disebabkan negara itu dijadikan tujuan utama subsitusi produk Tiongkok dan relokasi pabrik dari Tiongkok.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pengusaha”]
“Produsen mebel asal Tiongkok lebih tertarik merelokasi pabrik ke Vietnam dibandingkan ke Indonesia, hal ini menunjukkan kegiatan produksi mebel di Vietnam memiliki beberapa keunggulan,” paparnya.
Muhaimin , Direktur Masstige Deco Indonesia, perusahaan mebel di Sidoarjo yang fokus mengisi interior design dan mebel di industri perfileman Korea (Drakor)
Mengakui potensi pasar internasional masih sangat luas dan menjanjikan, sehingga perlu dimanfaatkan oleh para produsen mebel Indonesia melalui design dan produk yang berkualitas .
“Kami sejak beberapa tahun lalu secara rutin mengekspor produk mebel ke Korea rata-rata 20 kontainer per bulan, peluang pasar di Negeri Ginseng itu masih cukup besar,” ungkapnya.
Muhaimin menyatakan pentingnya mengintensifkan pameran mebel di dalam maupun luar negeri guna memperluas pasar ekspor.
Keikutsertaan pelaku industri mebel dalam kegiatan pameran berdampak positif dalam mempromosikan mebel Indonesia, selain bisa mempertemukan dengan buyer dari berbagai negara.
Tak dipungkiri bahwa untuk mengembangkan industri mebel diperlukan support pemerintah, terutama dalam upaya menggenjot ekspor. Soalnya, kinerja ekspor mebel Indonesia masih belum maksimal. sehingga masih kalah dengan sesama negara Asia Tenggara lainnya yakni Vietnam.
Dibalik cerahnya bisnis mebel yang padat karya ini, juga terdapat kekhawatiran dari pengusaha. Diantaranya bahan baku kayu, terutama kayu Mahoni dan Jati yang paling diminati masyarakat luar negeri. Beralihnya lahan Perhutani menjadi lahan sosial yang dipinjamkan kepada masyarakat membuat fungsinya tak lagi menanam kayu perkakas tetapi tanaman produktif lainnya.
“Kami akan mendorong pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) untuk menanam kayu perkakas seperti mahoni, jati dan lainnya dengan harapan produksi tidak terhambat dan Indonesia bisa menurunkan gas emisinya,” tambah Abdul Sobur.
Ketua HIMKI Jatim terpilih, Budianto Budi pun mengamini program HIMKI Pusat untuk melakukan penanaman kayu besar besaran melalui pemanfaatan lahan di hutan-hutan kita (dipinggir jalan jalan HPH) atau dulu dikenal dengan Tanam Jalur Indonesia .
Diharapkan melalui program kerjasama Tanam Jalur Indonesia dengan pemilik HPH (Hak Penguasaan Hutan) dapat menjaga keberlangsungan bahan baku Industri dan terus menjaga kelestarian Alam.
“Mengingat ketersediaan bahan baku kayu kedepan akan menjadi kendala utama industri Mebel dan Kerajinan Indonesia , karena semakin selain semakin sedikitnya cadangan kayu hutan juga terjadi tekanan pasar untuk menggunakan bahan bahan yang sustainable (hasil tanaman),” tandasnya.[rea]






