Lamongan (beritajatim.com) – Pemantauan hilal untuk menentukan awal Ramadan, dilakukan Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Lamongan di Markaz Rukyat Tanjung Kodok, Kecamatan Paciran, Selasa (17/2/2026). Hasilnya tim belum berhasil melihat hilal.
Ketua BHR Lamongan, Khoirul Anam, menjelaskan bahwa sekitar 300 hingga 400 perukyat turut serta dalam pemantauan tersebut. Namun, hingga batas waktu pengamatan berakhir, tidak ada satu pun laporan yang menyatakan hilal terlihat.
Menurutnya, secara astronomis posisi hilal di Tanjung Kodok memang berada pada ketinggian minus satu derajat, sehingga mustahil untuk dapat disaksikan.

“Secara hisab, ketinggian hilal di Tanjung Kodok minus satu derajat. Artinya secara astronomis tidak mungkin terlihat. Dalam istilah ilmu falak, kondisi ini disebut rukyat yang mustahil atau istihalaturrukyat,” kata Anam.
Meski demikian, kata Anam, proses rukyat tetap dilaksanakan sebagai bagian dari perintah agama sekaligus ketentuan negara.
Pengamatan hilal di Tanjung Kodok itu melibatkan berbagai unsur, di antaranya Pemerintah Kabupaten Lamongan, BHR, PCNU Lamongan, PCNU Babat, PD Muhammadiyah Lamongan, LDII, kalangan akademisi, pelajar, serta pegiat falak dari Studi Hisab Rukyat.
“Pelaksanaan rukyat merupakan bentuk ikhtiar dan kepatuhan terhadap mekanisme penentuan awal bulan Hijriah yang berlaku di Indonesia,” ujarnya.
Anam menambahkan, hasil rukyat dari Lamongan selanjutnya akan dilaporkan sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat yang digelar pemerintah pusat melalui Kementerian Agama RI untuk menetapkan awal bulan Ramadan secara resmi.
“Kami mengimbau masyarakat menunggu keputusan resmi pemerintah terkait penetapan awal Ramadan,” ucapnya. (fak/but)






