Sumenep (beritajatim.com) – Klenteng Pao Sian Lin Kong, di Jl. Slamet Riyadi, Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, merupakan klenteng yang berusia cukup tua. Klenteng ini diperkirakan sudah berumur 190 tahun.
Seperti halnya klenteng yang lain, warna merah masih mendominasi setiap sudut bangunan yang termasuk dalam cagar budaya Sumenep ini. Halaman klenteng ini cukup luas. Antara pintu gerbang dan bangunan utamanya, ada lahan yang cukup lebar. Tidak heran, karena Klenteng ini dibangun di atas lahan seluas 2.685 meter persegi.
Setelah melewati ‘men lou wu’ atau pintu gerbang untuk masuk ke dalam bangunan utama ada sebuah hiolo (tempat dupa besar). Kemudian di sebelah kiri dan kanan dari hiolo terdapat ‘cok say’ (patung singa) yang menghadap ke hiolo. Sedangkan di atas pintu utama terdapat kaligrafi dalam aksara Tionghoa yang memiliki makna ‘keramatnya mendunia’ serta ‘negara dan lautan tenang’.
[berita-terkait number=”5″ tag=”imlek”]
Klenteng Pao Sian Lin Kong, Sumenep, ini merupakan satu-satunya Klenteng di Madura yang beraliran ‘Tri Darma’. Artinya ada tiga agama yang bisa melakukan ‘sembahyang’ disini, yakni umat Konghucu, Budha, dan Tao.
Ketua pengurus tempat ibadah Tri Darma/Klenteng Pao Sian Lin Kong, Seno Jaya Menggala menceritakan, di ruang utama klenteng ini, ada tiga altar pemujaan. Masing-masing untuk Kongco Hok Tek Tjeng Sien (Dewa Bumi), kemudian Makco Thian Siang Sing Bo (Dewi pelindung bagi pelaut asal Fujian), dan Kong Tik Cung Ong. “Makco yang berada di tengah atau altar nomer dua ini kami sebut sebagai tuan rumah,” terang Seno, Minggu (23/02/2023).
Menurutnya, yang kerap menarik perhatian di Klenteng Pao Sian Lin Kong ini adalah keberadaan patung Dewi Kwan Im atau Dewi Welas Asih. Patung ini berada di sebuah bangunan ber-cat merah, di belakang ruang utama. Patung Dewi Kwan Im ini banyak diperbincangkan karena konon, patung ini bisa berubah wajah sesuai dengan kondisi jemaat yang datang berdoa.
“Kalau yang datang kesini orangnya berdoa tulus ikhlas, maka wajah Dewi Kwan Im yang aslinya putih tulang bisa berubah menjadi kemerah-merahan di pipi. Kemudian mata sang dewi yang semula sipit berubah lebar. Sang dewi seperti terlihat gembira,” ucapnya.
Sebaliknya, wajah Dewi Kwan Im akan murung kalau jemaat yang berdoa itu punya niat yang kurang baik. Atau bisa juga sebagai pertanda akan mendapat hal-hal yang tidak mulus dalam usaha. “Karena itu, Klenteng Pao Sian Lin Kong ini juga dikenal untuk berdoa supaya rejeki lancar, dagangan laris,” ujarnya.
Ia mengatakan, beberapa tahun sebelum pandemi, pengunjung di klenteng ini cukup ramai. Namun setelah pandemi, kondisi berubah drastis. Nyaris tidak ada pengunjung, kecuali jemaat yang akan beribadah.
Menurut Seno yang bernama Tionghoa Jap Sen Boen, jumlah jemaat saat sembahyangan Imlek di Sumenep semakin tahun memang semakin berkurang. Masa sebelum pandemi, jumlah jemaat sembahyangan Imlek bisa mencapai 50 orang lebih. Saat ini hanya tersisa tidak sampai 20 orang.
“Ini karena sebagian besar jemaat klenteng disini merayakan Imlek di Surabaya. Imlek ini juga menjadi momen bagi warga tionghoa untuk mudik, seperti umat muslim saat lebaran. Nah, jemaat sembahyangan ini saat Imlek akan pulang ke rumah orang tuanya yang rata-rata tidak tinggal di Sumenep,” paparnya.
Klenteng di Sumenep ini justru lebih ramai saat perayaan cap go meh pada bulan dua, dan hari kelahiran Dewi Kwan Im pada bulan tiga. “Di dua perayaan itu, nanti akan ada acara disini. Kalau Imlek justru tidak ada acara,” pungkas Seno. (tem/kun)






