Indramayu (beritajatim.com) – PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), anak usaha PT Pertamina (Persero), memiliki enam unit kilang yang menjadi tulang punggung pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, dengan total kapasitas pengolahan mencapai 1,056 juta barel per hari (MBPOD).
Enam Kilang Refinery Unit (RU) yang dikelola KPI meliputi RU II Dumai Riau, RU III Plaju Sumetera Selatan, RU IV Cilacap Jawa Tengah, RU V Balikpapan Kalimantan Timur, RU VI Balongan Jawa Barat, dan RU VII Kasim Papua Barat Daya.
Setiap kilang memiliki karakteristik dan spesialisasi berbeda. Seperti, RU II Dumai dengan kapasitas 170 ribu barel per hari dengan produk Solar, Avtur, Pertalite, Pertadex, MFO-LS, LSFO, UCO, NBF, Smooth Fluid, dan Green Coke. RU III Plaju dengan kapasitas 126 ribu barel per hari dengan produk Bio Solar B40, Pertalite/Dexlite, Avtur, LPG, Polytam, MFO LS, dan Musicool.
RU IV Cilacap dengan kapasitas 348 ribu barel per hari dengan produk Propylene, Paraxylene, Benzene, Minarex, Aspal, Smooth Fluid, Hidrotreated Vegetable Oil (HVO), Lube Oil Base, dan SAF (Sustainable Aviation Fuel).
Adapun RU V Balikpapan dengan kapasitas 360 ribu barel per hari dengan produk Solar, Pertalite, Pertadex, Avtur, dan Smooth Fluid. Dan RUVII Kasim dengan kapasitas 10 ribu barel per hari dengan produk Pertalite dan Solar B40.
Sementara itu, menurut General Manager Pertamina RU VI Balongan Yulianto Triwibowo, kapasitas pengelolaan Kilang Balongan sebesar 150 ribu barel per hari. Angka tersebut setara 14,2% dari total kapasitas nasional kilang Pertamina yang mencapai 1 juta lebih barel per hari. Sementara produknya berupa Solar, Pertalite, Pertamax Turbo, Pertadex / Pertamina Dex, dan Avtur.
Dia menambahkan, kilang Balongan mulai Dibangun tahun 1990 dan mulai beroperasi 1994 atau sekitar 30 tahun. Meski sudah relatif tua, kilang Balongan masih lebih muda dibanding kilang lain. Bahkan ada yang sudah berdiri sejak sebelum era kemerdekaan, yakni Kilang Plaju yang ada sejak 1904.
Kilang Balikpapan diambil alih oleh Pertamina pada tahun 1966, setelah Pertamina berdiri pada tahun 1957, Kilang Dumai mulai beroperasi pada tahun 1971, dan Kilang Cilacap dibangun dalam dua tahap, yaitu pada tahun 1974 dan 1981. Sementara kilang termuda adalah Kilang Kasim yang mulai dioperasikan pada bulan Juli 1997.

Yulianto menyebut, tujuan dibangun kilang Balongan untuk meningkatkan nilai tambah bagi negara melalui ekspor sektor migas dan non-migas sesuai dengan kebijakan Pemerintah. Menurutnya, kilang dengan kompleksitas tertinggi di Indonesia dengan Nelson Complexity Index (NCI) : 1,9.
“Angka ini menunjukkan bahwa kilang Balongan sangat efisien dan mampu mengolah minyak mentah menjadi berbagai produk,” katanya saat menerima kunjungan awak media termasuk beritajatim.com.
Menurutnya, keunggulan Kilang Balongan diantaranya memiliki Unit Produksi Residu Catalytic Cracking (RCC), Kilang Langit Biru Balongan (KLBB) dan RCC Off Gas to Propylene Plant (ROPP).
Unit RCC didesain untuk mengolah residu menjadi produk dengan nilai ekonomi tinggi seperti LPG, Propylene, Polygasoline (mogas dengan RON 98), Naptha (RON 92), Light Sycle Oil (LCO) dan Decant Oil (DCO).
Sementara, KLBB mengolah Low Octane Mogas Component (LOMC) menjadi produk High Octane Mogas Component (HOMO). Unit ROPP di Kilang Balongan adalah unit penghasil propylene dari recovery off gas di Indonesia. Setelah kilang ROPP beroperasi, off gas (gas yang tidak bernilai ekonomis dan dibuang) diolah menjadi produk propylene sehingga mengurangi emisi sebesar 84.900 ton CO2 eg per tahun.
Dia pun menjelaskan, proyek unggulan di Kilang Balongan yang meliputi, tahun 2005 : Program Kilang Langit Biru Balongan, kapasitas produksi 52 ribu barrel per hari. Tahun 2012 : Program Kilang RCC Off Gas to Propylene Plant (ROPP). Tahun 2017 : Avtur Project, menghasilkan high quality avtur. Tahun 2022 : Revitalisasi Kapasitas Unit RCC menjadi 83 ribu barrel per hari 2022 : Revamp CDU dari kapasitas pengolahan 125 ribu barrel menjadi 150 ribu barrel per hari.
Kemudian tahun 2022 : Produksi Ultra Low Sulphur Diesel (ULSD) – Produksi Pertadex Ultra Low Sulphur kapasitas 15 ribu barrel per hari dan tahun 2025 : Produksi Diesel X – berkategori Ultra Low Sulphur Diesel (ULSD) ini punya kandungan sulfur sangat rendah (kurang dari 10 ppm) dan memiliki standar setara Euro V.
“Serta tahun 2025 juga pembangunan empat unit tangku kapasitas masing-masing 29 ribu meter3,” katanya.
Yulianto memastikan, KPI terus melakukan improvement dan inovasi untuk menjaga keandalan operasional kilang di tengah tantangan industri migas yang semakin kompleks.
“Walaupun banyak tantangan, kami tetap bekerja dengan tenang dan fokus, karena kami percaya semangat kebersamaan yang kami miliki akan membuat Pertamina semakin baik ke depannya. Semua itu kami lakukan agar Pertamina tetap menjadi kebanggaan Indonesia,” ujarnya. [hen/suf]






