Surabaya (beritajatim.com) – Sebuah penelitian baru menemukan bahwa kasus hipertensi atau tekanan darah tinggi telah berlipat ganda dalam 30 tahun terakhir menjadi sebanyak 1.28 milyar kasus.
Sebagian besar kasus tersebut terjadi pada negara-negara berkembang. Penelitian yang dipimpin oleh Imperial College London dan World Health Organization (WHO) ini merupakan analisis komprehensif pertama terhadap tren prevalensi, deteksi, perawatan, dan kontrol terhadap kasus hipertensi yang dilakukan secara global.
Data yang dikumpulkan dari lebih dari 100 juta orang berusia 39 – 79 tahun di 184 negara menunjukkan bahwa lebih dari 700 juta orang dengan hipertensi, penyakit serius yang mengancam nyawa, tidak mendapat perawatan atas penyakit ini. Sebagian besar dari orang-orang tersebut tidak terdiagnosis dan tidak mengetahui bahwa mereka memiliki penyakit hipertensi.
Menurut Bente Mikkelsen, Direktur Departemen Penyakit Tidak Menular di WHO, kurangnya pengetahuan atas penyakit ini memiliki konsekuensi yang sangat berbahaya.
“Pertama-tama, kita tahu bahwa penyakit kardiovaskular adalah penyebab kematian pertama di dunia. Dalam estimasi kesehatan global terakhir, kita tahu bahwa 17.1 juta orang sekarat karena penyakit kardiovaskular setiap tahunnya. Dan kita juga tahu bahwa hipertensi adalah salah satu penyebab utamanya,” jelas Mikkelsen.
Hipertensi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, otak, dan ginjal secara signifikan, yang mana diketahui bahwa penyakit-penyakit tersebut adalah penyebab kematian paling banyak di dunia.
Faktor-faktor utama yang menyebabkan hipertensi antara lain konsumsi makanan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi tembakau dan alkohol, serta obesitas.
Dalam tiga dekade terakhir, penelitian menemukan bahwa tren kasus hipertensi telah berpindah dari negara-negara kaya ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Majid Ezzati, profesor kesehatan lingkungan global di Imperial College London menyatakan bahwa kasus hipertensi telah berkurang di negara-negara kaya, dan mengalami peningkatan di negara-negara miskin.
Penduduk dari negara-negara sub-Sahara Afrika, Asia Selatan, dan negara-negara Pulau Pasifik tidak mendapatkan perawatan yang dibutuhkan. Jadi, dalam sebuah era di mana kita banyak fokus pada keadilan dalam mendapatkan perawatan, dan lagi, ini adalah sesuatu yang selalu kita dengar setiap harinya dalam satu setengah tahun terakhir, ketidakadilan dalam diagnosis, adalah suatu hal yang perlu diketahui oleh komunitas kesehatan global.
Penelitian juga menemukan bahwa persentase perawatan di daerah-daerah tersebut ada di bawah 25% untuk wanita dan 20% untuk pria. Sebagai pembanding, lebih dari 70% penduduk dengan hipertensi di Kanada, Iceland, dan Korea Selatan mendapatkan pengobatan untuk mengontrol penyakit mematikan ini. [dwp/bjo]






