Sumenep (beritajatim.com) – Meninggalnya Adelia Aziz Bella Negara di Puskesmas Batang-batang, terus berbuntut. Puluhan warga timur daya dan keluarga bayi berdandan pocong, mendatangi Dinas Kesehatan dan Kantor Bupati Sumenep. Mereka menuntut pertanggungjawaban atas kematian bayi berumur 5 hari itu.
Mereka membawa beberapa banner bertuliskan protes. Diantaranya, ‘Senggol dikit dong, 1000 boneka’, ‘Kembalikan citra pelayanan Puskesmas’, ‘Copot kepala Puskesmas Batang-Batang dan Bidan Windu’, ‘stop tumbal bayi’.
“Kepala Dinas Kesehatan harus tegas mencopot Kepala Puskesmas Batang-batang dan bidan yang mengambil sampel darah, karena telah lalai,” kata korlap aksi, Abd. Halim, Jumat (01/12/2023).
Baca Juga: Warga Sidoarjo Sambut Baik Lomba Jimpitan yang Digelar Gus Muhdlor
Adelia Aziz Bella Negara lahir di Puskesmas Batang-batang dalam kondisi sehat, sehingga setelah persalinan, ibu dan bayinya dipersilahkan pulang. Namun bayi diminta dibawa kembali ke Puskesmas beberapa hari lagi, untuk pengambilan sampel Skrinning Hipotiroid Kongenital (SHK). Skrining tersebut untuk mengetahui secara dini, apakah bayi menderita hipotiroid atau tidak.
SHK tersebut dilakukan dengan cara pengambilan darah dari tumit bayi. Versi keluarga, pasca pengambilan darah di tumit itu, kondisi bayi drop. Badannya panas dan tidak mau minum ASI maupun susu formula, hingga akhirnya si bayi meninggal. Padahal saat bayi perempuan itu lahir di Puskesmas Batang-batang, dalam keadaan sehat dengan berat 3,4 kg.
Keluarga bayi mengungkapkan ada beberapa kejanggalan dari proses SHK. Diantaranya, tidak ada persetujuan keluarga. Kedua, yang mengambil sampel darah untuk skrining bukan dokter, tetapi bidan. Selain itu, di tumit bayi yang diambil darahnya, ada bekas lebam biru menghitam.
“Ini ada fotonya. Lihat ini, tumit ponakan saya merah, lebam, setelah diambil darahnya sama bidan itu,” kata Anwar, paman bayi seraya menunjukkan foto tumit bayi.
Baca Juga: Sebanyak 5 Penambang Pasir di Blitar Tersambar Petir, 1 Meninggal Dunia
Ia mengaku sangat kecewa dengan pelayanan Puskesmas Batang-batang. Karena itu, ia juga berharap kepala Puskesmas dan bidan itu diberhentikan dari jabatannya.
Salah satu peserta aksi mengenakan baju pocong. Tidak hanya itu, keluarga bayi juga membawa boneka-boneka berbentuk pocong sebagai simbol kematian.
“Jangan sampai ada korban lagi seperti keponakan saya. Meninggal karena kelalaian Puskesmas. Kami menuntut tanggung jawab atas kematian keponakan saya itu,” ujar Anwar.
Ia mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar dengan jumlah massa yang lebih banyak, apabila tuntutan mereka tidak dipenuhi. (tem/ian)






