Banyuwangi (beritajatim.com) – Sulit mendapat pasangan yang diidamkan kadang menjadi kendala tersendiri bagi siapa saja yang mengalaminya. Ada dugaan jika mereka mendapat guna-guna sehingga sulit mendapatkan jodoh yang diidamkan.
Ada pula yang beranggapan jika jodoh tidak perlu dikejar, karena yang maha kuasa telah mempersiapkannya. Tapi apa jadinya jika yang diharapkan tak pernah sampai di pelaminan?
Di Banyuwangi ada sebuah perilaku unik dari warganya yang kerap kali sulit mendapat pasangan. Ada perilaku yang dinilai cukup nyeleneh di luar nalar tapi ada yang meyakininya. Ya, warga melakukan sebuah aksi unik yakni berburu tanaman jamur bernama jamur trucuk. Jamur ini tidak sembarangan tumbuh.
Jamur trucuk dipercaya hanya ada di kawasan lembah Gunung Raung. Tepatnya di daerah Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. Saat masa musim jamur trucuk tiba, warga sekitar hutan kawasan tersebut banyak yang berburu. Mereka biasanya memanfaatkan momen saat musim hujan, karena banyak jamur yang tumbuh.
BACA JUGA: Ijen Geopark Jadi Anggota UNESCO, Wisata Banyuwangi Siap Go Internasional
Ada catatan penting, bagi siapa saja yang menemukan jamur trucuk tumbuh sebatang, sendirian alias kesepian, maka dipercaya jodoh akan dekat. Entah itu merupakan sekedar mitos atau memang menjadi pertanda nyata.
Yang jelas, banyak warga yang menggandrunginya dan menjadi cerita sendiri bagi mereka. Selain memiliki nilai ekonomis, tentunya khasiat enteng jodoh menanti di depan mata. “Kalau menemukan jamur trucuk yang tumbuh sendirian, segeralah ambil. Katanya itu membawa keberuntungan, bisa rejeki bisa juga jodoh,” ungkap Joko Pitono salah seorang warga.
Akan tetapi, faktanya tak semudah itu mendapatkan jamur trucuk yang tumbuh sebatang. Karena sifat jamur ini termasuk tumbuh dengan berkelompok. Sehingga, bisa dipastikan hanya faktor lucky yang dapat menjawabnya. Satu catatan lain, kesempatan hanya datang sekali saja.
BACA JUGA: Ada Glenbaru, Paket Wisata Banyuwangi Susuri Sejarah Zaman Belanda
Artinya, bagi siapa saja yang menemukan harus segera mengambilnya. Jika, mereka menunda, maka lain waktu bakal hilang secara misterius. “Sering ada yang mengalami, nemuin jamur itu sendirian. Dibiarkan saja tapi tidak diambil. Waktu besok dicari lagi, eh sudah hilang. Padahal lokasi tumbuhnya itu dipastikan tidak ada orang lewat,” ungkap Joko.
Bukti dari keberadaan cerita itu benar adanya atau hanya sebuah kebetulan belaka. Pada suatu hari, ada warga yang menemukan jamur trucuk dan kemudian mengkonsumsinya.
Kebetulan pula, warga itu belum memiliki jodoh. Dia merantau ke Bali selang dua bulan kemudian. Namun, tanpa disangka tak butuh waktu lama yang bersangkutan mendapat jodoh dan menikah dengan warga setempat.
“Ada juga teman saya, umurnya hampir 40 tahun tapi belum menikah. Setelah memakan jamur itu tak lama kemudian dia menikah. Ya jodoh itu kan misteri, mitos boleh percaya boleh tidak,” terangnya. [rin/suf]






