Surabaya (beritajatim.com) – Menjadi bagian di ajang Piala Dunia U17 adalah pengalaman baru bagi seorang jurnalis lokal Beritajatim.com. Apalagi bukan hanya berstatus sebagai jurnalis aktif, namun Wahyu Hestiningdiah juga menjadi Venue Media Manager di divisi Media Operation.
Perjalanannya menjadi VMM Piala Dunia bermula dua bulan yang lalu tepatnya bulan September dimana ia dipilih oleh PSSI karena dianggap telah memiliki pengalaman di event sepak bola internasional sebelumnya.
Sempat menolak untuk bergabung menjadi LOC staf, namun gadis asal Surabaya ini akhirnya memutuskan bergabung dengan dalih pengalaman di event dunia di Stadion Gelora Bung Tomo.
“Saya tiga kali menolak ketika ditawari untuk bergabung menjadi LOC karena saya merasa masih belum mumpuni di bidang ini dengan pengalaman masih minim. Dan bahasa Inggris pun pasif, namun pada akhirnya ada seseorang yang meyakinkan untuk mengambil pengalaman baru ini, akhirnya bergabunglah,”ungkapnya.
Perbedaan regulasi pertandingan cukup besar di ajang Piala Dunia U17, bukan hanya dimulai dari akreditasi media yang begitu ketat. Bagaimana awak media juga dihadapkan dengan serangkaian pengambilan gambar dan penulisan berita yang berbeda.
“Banyak hal yang harus dipatuhi dalam regulasi piala dunia ini saat peliputan. Hal itu yang harus disosialisasikan kepada para awak media lokal maupun luar negeri, salah satunya adalah filming dan live report yang tidak diperbolehkan di seluruh area media,” ucapnya.
Bekerjasama dengan tim asing bukanlah hal mudah bagi warga negara Indonesia, ketepatan dan ketelitian serta konsistensi dalam pekerjaan benar-benar harus dijaga. “Orang-orang FIFA ini tidak bisa bekerja dijanjikan, mereka terbiasa bekerja cepat dan tepat. Jadi tidak bisa kita menunda pekerjaan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, suka dan duka dirasakan Wahyu ketika berada dalam ‘kepanpelan’ Piala Dunia U17, sukanya ia bisa selangkah lebih memberikan berita dibanding dengan yang lain. Selain itu, ia juga bisa menambah pengalaman dan ilmu baru dari penerapan penyelenggaraan sepak bola internasional.
Dukanya adalah mengkombinasikan pekerjaan dengan FIFA dan para volunteer yang sebelumnya ia masih belum tahu bagaimana kualitas performa karena rata-rata masih baru lulus kuliah. “Ini pengalaman yang tak kan terlupakan. Banyak ilmu yang didapat dan diaplikasikan untuk sepak bola yang lebih berkembang di Indonesia. Serta mengerti regulasi sebagai jurnalis olah raga bertaraf internasional,” imbuhnya. (way/kun)
BACA JUGA: Prancis Ingin Pertahankan Rekor Clean Sheet di Semifinal Piala Dunia U-17






