Surabaya (beritajatim.com) – UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) kriya batik berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional, termasuk dalam hal serapan tenaga kerja di Indonesia. Jumlah UMKM yang bergerak dalam bidang kriya kain pun cukup banyak.
Selain aspek ekonomi, batik sebagai produk ekonomi kreatif yang memiliki kapasitas untuk memperkuat identitas kebudayaan. Terlebih batik telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009.
Meski memiliki banyak aspek positif, produksi batik memiliki sisi lain. Berupa potensi pencemaran lingkungan yang diakibatkan penggunaan berbagai bahan kimia dalam proses produksi batik. Salah satunya melalui proses pewarnaan.
Proses produksi batik yang banyak melibatkan air dalam setiap tahapan produksinya menjadikan tingginya potensi pencemaran air yang ditimbulkan dari penggunaan bahan kimia dalam proses pewarnaan batik. Potensi pencemaran yang ditimbulkan oleh produksi batik masih belum banyak disadari para pengrajin batik.

Menyikapi banyaknya potensi positif dari UMKM batik sekaligus adanya sisi negatif, Universitas Ciputra Surabaya berinisiatif memberikan edukasi terhadap para pengrajin batik tentang pewarna alami yang ramah lingkungan. Sekaligus sebagai bagian dari dukungan terhadap konsep SDGs, pembangunan yang berkelanjutan.
Upaya Universitas Ciputra tersebut ditunjang oleh dana insentif Abdimas dari DIKTI tahun 2022, melalui program dengan judul “Pendampingan UMKM Batik berbasis Greenpreneur”. Ketua Pelaksana program, Dr. David Sukardi Kodrat, MM., CPM (Asia), menilai bahwa dana insentif Abdimas seperti ini sangat dibutuhkan untuk peningkatan kapasitas produk dan produksi UMKM, khususnya UMKM kriya batik.

David Sukardi Kodrat menilai bahwa sisi negatif dari proses produksi batik sebenarnya justru bisa diubah menjadi sisi positif. “Penggunaan pewarna alam dalam produk batik, selain masalah lingkungan, juga bisa dijadikan sebagai bagian dari inovasi dan kreativitas yang bisa memberikan nilai tambah produk kriya batik yang dihasilkan,” katanya, Selasa (15/12/2022).
Dipaparkan oleh David Sukardi Kodrat, pendampingan UMKM batik berbasis greenpreneur dilakukan di Desa Wage Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo pada 12-14 Desember 2022. Pendampingan dilakukan terhadap 15 UMKM, berasal dari pengrajin kriya kain dan fesyen.
“Proses pendampingan dilakukan melalui beberapa tahap pelatihan, mulai dari tahap pengenalan motif dan trend batik, teknis batik dan pewarnaan, produksi batik, hingga digital marketing,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”Universitas-Ciputra-surabaya”]
Sementara itu, Rektor Universitas Ciputra, Ir. Yohannes Somawiharja, M.Sc. menilai bahwa pelatihan tersebut berhasil meningkatkan kapasitas para pelaku kriya kain dalam hal teknik pewarnaan alami, sehingga meningkatkan nilai tambah dari produk kriya kain yang dihasilkan sekaligus sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap permasalahan lingkungan atau keberlangsungan lingkungan hidup.
Rektor juga menambahkan bahwa pelatihan seperti ini perlu diperluas jangkauan dan kapasitasnya agar semakin banyak pengrajin kriya kain yang dapat dijangkau, mengingat potensi ekonomi kreatif untuk kriya kain cukup besar di Indonesia, dan Universitas Ciputra akan berkontribusi dalam hal tersebut. [but]






