Surabaya (beritajatim.com) – Jumlah kasus leptospirosis di Jawa Timur hingga 5 Maret 2023 mencapai 249 kasus. Angka tersebut diprediksi meningkat saat musim penghujan. Sedangkan belasan orang sudah dinyatakan meninggal akibat penyakit tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Nanik Sukritisna menyebut hingga saat ini belum ada temuan kasus penyakit leptospirosis atau kencing tikus di kota pahlawan. “Belum ada kasus (Leptospirosis di Surabaya),” kata Nanik saat dihubungi beritajatimcom, Senin (13/3/2023).
Diketahui, dari total 249 kasus, terbanyak ditemukan di Pacitan dengan 204 kasus dengan jumlah kematian 6 orang. Kemudian disusul Kabupaten Probolinggo 3 kasus dengan kematian 2 orang, dan Kota Probolinggo 5 kasus dengan kematian 1 orang.
[berita-terkait number=”5″ tag=”leptospirosis”]
Sementara di Gresik terdapat 3 kasus, Lumajang 8 kasus, Sampang 22 kasus, dan Tulungagung 4 kasus. Diketahui, gejala penyakit ini mirip seperti DBD. Leptospirosis sendiri disebabkan oleh bakteri leptospira.
Meski belum ditemukan kasus di Surabaya, pihaknya tetap melakukan antipasi. Saat ini Dinkes Surabaya bekersama dengan institusi lain untuk melakukan pemantauan di beberapa wilayah khususnya wilayah padat dan rawan banjir.
“Bekerjasama dengan institusi lain seperti BBTKL & PP (Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit) untuk melakukan surveilance pemeriksaan sentinel tikus dan survei kepadatan tikus di beberapa wilayah di Kota Surabaya, khususnya wilayah padat penduduk dan rawan terjadinya banjir,” ujar Nanik.
Pihaknya juga telah mengeluarkan surat edaran untuk menyiapkan seluruh fasilitas kesehatan (faskes) untuk pengobatan dan pencegahan jika ditemukan kasus Leptospirosis di Kota Surabaya.
“Meningkatkan kewaspadaan dini faskes di Kota Surabaya dengan adanya surat dari Kepala Dinas Kesehatan kepada seluruh faskes tentang pencegahan dan tatalaksana pengobatan pasien leptospirosis,” katanya.
Tak hanya itu, Dinkes Surabaya juga telah melakukan sosialisasi di seluruh faskes agar masyarakat mengetahui dan waspada gejala-gejala penyakit leptospirosis. “Melakukan deseminasi informasi di faskes mengenai penyakit leptospirosis melalui media KIE berupa leaflet, poster, penyuluhan terhadap masyarakan dan media sosial,” katanya.
Terakhir, Dinkes Surabaya melakukan monitoring intensif puskesmas mau pun rumah sakit jika ditemukan kasus Leptospirosis. “Monitoring dan evaluasi intensif secara rutin setiap minggu pada aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) di tingkat Pusk dan RS,” pungkas Nanik.[asg/kun]
![Belum Ada Kasus Leptospirosis di Surabaya Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Nanik Sukritisna.[foto/ademasrio].](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/03/4AD290EE-F384-4154-861F-7410ACE96DA2.jpeg)





