Trenggalek (beritajatim.com) – Antusiasme tinggi mewarnai gelaran bedah buku #ResetIndonesia yang berlangsung di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, pada Senin (22/12/2025).
Ratusan peserta dari berbagai latar belakang, mulai Aparatur Sipil Negara (ASN), masyarakat umum, hingga kalangan akademisi, memadati kawasan Hutan Kota Trenggalek sejak awal acara.
Kegiatan yang diselenggarakan Kabar Trenggalek ini menghadirkan tim lengkap penulis buku Reset Indonesia yang tergabung dalam Ekspedisi Indonesia Baru, yakni Dandhy Laksono, Farid Gaban, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu.
Kehadiran para penulis membuka ruang diskusi terbuka mengenai arah masa depan bangsa, khususnya dari perspektif keadilan sosial dan lingkungan hidup.
Forum bedah buku tersebut dipimpin langsung Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin. Dalam diskusi, sejumlah isu strategis mengemuka, mulai dari pendidikan, narasi federasi, hingga persoalan lingkungan hidup yang dinilai krusial bagi daerah dan nasional.
Salah satu suara yang mencuat berasal dari peserta yang secara tegas menolak rencana penambangan emas di wilayah Trenggalek. Penolakan disampaikan dengan alasan keberlanjutan alam serta keadilan bagi generasi mendatang, yang dinilai harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan pembangunan.
Dalam pernyataannya, Bupati Trenggalek menegaskan pentingnya mencari alternatif pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan. Ia menyebut buku Reset Indonesia layak dibaca oleh semua kalangan, terutama para pemegang amanah kebijakan.
Menurutnya, pemahaman yang utuh terhadap gagasan dalam buku tersebut dapat membantu memastikan kebijakan publik berpihak pada rakyat, alam, dan masa depan generasi berikutnya. Ia juga mendorong agar forum diskusi serupa terus digelar di berbagai daerah sebagai bagian dari proses refleksi bersama.
“Selama kita tidak menggugat pikiran kita sendiri dan tidak mengoreksi perilaku kita sendiri, maka jalannya tidak akan baik-baik saja. Sudah saatnya reset Indonesia,” ujarnya di hadapan peserta.
Situasi di Trenggalek ini menjadi kontras dengan agenda bedah buku #ResetIndonesia sebelumnya. Pada Sabtu (20/12/2025), kegiatan serupa di Desa Gunungsari, Madiun, terpaksa batal setelah dibubarkan oleh aparat dan pemerintah setempat.
Jika di Madiun ruang diskusi tertutup, di Trenggalek forum justru berlangsung terbuka dan dihadiri banyak ASN, memperlihatkan dukungan terhadap ruang dialog publik.
Kehadiran ratusan peserta dari lintas profesi di Trenggalek menjadi penanda bahwa ruang dialog, kritik, dan refleksi masih mendapatkan tempat di daerah, termasuk untuk membahas masa depan pembangunan dan keadilan sosial. [nm/ted]






