Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 12 finalis Miss Grand Jawa Timur 2026 mulai menjalani pembekalan intensif dengan mengusung misi perdamaian.
Usai mengikuti arak-arakan di Vasa Hotel Surabaya, para kontestan bakal digembleng melalui rangkaian karantina ketat untuk memperebutkan mahkota juara.
Regional Director Miss Grand Jawa Timur 2026, Dimas Wijayanto mengungkapkan bahwa kompetisi tahun ini berfokus pada tema Beauty of Peace. Sehingga, itu menuntut para finalis memiliki kepedulian sosial tinggi di samping kecantikan fisik.
“Tema khusus pastinya kalau Miss Grand adalah Beauty of Peace. Jadi mengusung tema perdamaian dunia,” kata Dimas, Kamis (30/4/2026).
Selama masa karantina di Surabaya dan Pasuruan, peserta mendapatkan kurikulum khusus untuk mengasah kemampuan intelektual. Panitia menyiapkan materi berbicara di publik hingga tata krama sebagai modal di panggung nasional.
“Materi-materi yang sudah kita sampaikan materi, public speaking, kemudian materi manner, dan juga kegiatan lainnya,” jelas Dimas.
Selain itu, para finalis juga menjalani latihan koreografi secara rutin. Seluruh persiapan ini diarahkan untuk menyuguhkan penampilan maksimal pada malam puncak yang digelar awal Mei mendatang.
“Kita juga akan berlatih untuk nantinya dipersembahkan di malam grand final di tanggal 2 Mei 2026 di Graha Unesa,” tambahnya.
Sementara itu, Nadya Josephine Kurniawan, finalis asal Surabaya, mengaku motivasinya bergabung adalah untuk mendalami nilai persatuan. Baginya, ajang ini bukan hanya soal kompetisi, melainkan wadah belajar tentang kekuatan perempuan.
“Miss Grand ini banyak mengangkat tentang perdamaian, mengangkat tentang kekuatan, persatuan yang bisa menunjukkan kekuatan antara satu dengan yang lain,” tutur Nadya.
Mahasiswi ilmu komunikasi ini berambisi menunjukkan versi terbaik dirinya melalui persiapan yang matang. Ia menargetkan posisi utama agar bisa membawa nama baik Jawa Timur ke level yang lebih tinggi.
“Harapannya jika terpilih saya yakin akan bisa membawa nama baik Jawa Timur untuk ke kancah nasional,” tegas Nadya.
Masa karantina ini menjadi pembuktian bagi 12 finalis sebelum menghadapi juri pada malam penentuan. Namun, satu orang finalis terpaksa absen karena kondisi kesehatan yang menurun. [ipl/but]






