Banyuwangi (beritajatim.com) – Anak muda kreatif Banyuwangi menciptakan batik khas daerahnya dengan nama batik Macan Putih. Penamaan batik itu disesuaikan dengan daerah dan motifnya. Batik Macan Putih itu dilaunching Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.
“Kegiatan ini sangat positif, mudah-mudahan bisa menjadi mendukung desa-desa di Banyuwangi yang memiliki potensi lokal baik budaya maupun UMKM yang selama ini belum muncul,” ujar Ipuk didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata MY Bramuda, Camat Kabat, Susanto Wibowo, Selasa (31/8/2021).
Memang saat itu, Puluhan generasi milenial dari berbagai komunitas di Banyuwangi menggelar Festival Banyuwangi Youth Creative Network (BYCN). Di dalamnya ada berbagai edukasi. Di antaranya, belajar tari dengan maestro gandrung sekaligus pelatihan branding produk UMKM Desa.
[berita-terkait number=”5″ tag=”batik”]
Benar saja, pada festival itu, para generasi milenial belajar tari gandrung dari para maestro gandrung Banyuwangi, seperti Temuk, Dartik, dan Sunasih. Selain itu mereka juga menggelar pelatihan dan pendampingan branding berbagai produk di Desa Macan Putih, seperti olahan jamur dan gula semut.
Ipuk mengharapkan, kegiatan ini terus dilakukan dan selanjutnya agar terus dijalankan untuk memberikan pendampingan UMKM sampai ke tahapan pemasarannya.
“Pemasaran itu berhubungan dengan kreativitas, karena tanpa adanya promosi yang kreatif maka produk tidak akan dikenal orang. Oleh sebab itu, pelaku UMKM sangat penting untuk memiliki keterampilan untuk membuat suatu produk menjadi lebih menarik,” kata Ipuk.
Ipuk menambahkan kegiatan BYCN ini semoga bisa memacu banyak komunitas anak muda lainnya untuk terlibat dalam program pemberdayaan masyarakat. “Walaupun sekarang dihadapkan pandemi covid 19, tetapi kita harus tetap optimis melakukan langkah-langkah kreatif.
Ketua BYCN Vicky Hendri Prasetyo mengatakan festival ini diawali pelatihan olahan produk jamur dan gula semut, di hari pertama. Pada hari kedua diisi pelatihan foto produk dan desain produk, hari ketiga bertema budaya dengan pelatihan gerak dasar tari gandrung. Selanjutnya di hari keempat mendatangkan maestro gandrung Banyuwangi untuk mengajar generasi muda menari gandrung.
Vicky menjelaskan sebelum menggelar festival, dia bersama tim turun ke desa melihat berbagai potensi. Pelatihan olahan gula semut dan olahan jamur diadakan karena Kabat terkenal dengan dua potensi ini.
“Dari berbagai potensi itu kami lakukan pelatihan branding produk, seperti fotografi secara sederhana menggunakan handphone, sehingga bisa dilakukan oleh siapapun. Selain itu juga pelatihan desain komunikasi visual agar nanti mereka bisa membuat flyer untuk di medsos,” kata Vicky.
Vicky yang merupakan pemuda asal Desa Segobang, Kecamatan Licin itu mengatakan BYCN kali merupakan chapter 2. “Sebelumnya di chapter pertama, BYCN dilaksanakan di wilayah kecamatan Wongsorejo. Kami masih ada dua chapter lagi yang akan kami gelar,” pungkasnya.
BYCN merupakan kumpulan berbagai komunitas yang meliputi 17 sektor, seperti arsitektur, desain interior, desain produk, fashion, film/video dan animasi, fotografi, kerajian, kuliner, sektor musik, sektor aplikasi, periklanan, televisi/audio/media, seni pertunjukan, seni rupa, dan lainnya.
Mereka berkumpul mengangkat berbagai potensi desa di Banyuwangi dengan menggelar pelatihan di berbagai sektor kreatif yang mengacu pada masing-masing potensi desa. (rin/kun)







