Surabaya (beritajatim.com) – Sentuhan teknologi kini merambah ke dunia batik tradisional. Tim dosen dan mahasiswa Universitas Hayam Wuruk (UHW) Perbanas Surabaya menciptakan inovasi baru berupa cetakan batik cap berbasis 3D printing untuk membantu proses produksi di UKM Batik Tulis Melati, yang berlokasi di Jalan Babadan Gang 1, Gundih, Bubutan, Surabaya.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat, inovasi ini dirancang untuk memperkenalkan penerapan teknologi digital dalam industri batik agar prosesnya lebih efisien, presisi, dan mudah direplikasi tanpa menghilangkan nilai seni dan keaslian motif tradisional.
Cetakan batik yang sebelumnya dibuat dari tembaga atau karton kini dicetak menggunakan printer 3D dengan bahan resin tahan panas dan pegangan kayu. Hasilnya, cap menjadi lebih ringan, kuat, dan awet digunakan.
Ketua Tim Pengabdian, Nanang Setiyoko, S.Pd., M.A., menjelaskan bahwa teknologi 3D printing ini mampu memangkas waktu produksi tanpa mengorbankan kualitas.
“Dengan cap berbasis 3D printing, proses pengecapan menjadi lebih cepat dan presisi. Waktu produksi berkurang hingga setengahnya, sementara motif tetap rapi dan tajam,” ujarnya.
Selain menciptakan alat, tim juga memberikan pelatihan kepada para pengrajin tentang desain digital motif batik menggunakan perangkat lunak grafis. Langkah ini membuka peluang bagi pengrajin untuk mengembangkan motif baru yang terinspirasi dari kekayaan flora dan fauna khas Surabaya, memperkuat identitas batik lokal sebagai warisan budaya yang hidup dan dinamis.
Tak hanya berhenti pada aspek teknis, hasil karya inovatif ini juga tengah diajukan untuk mendapatkan sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Langkah ini menjadi bentuk perlindungan hukum atas karya kolaboratif antara akademisi dan pelaku usaha kecil.
“Kami ingin menunjukkan bahwa batik tidak harus terjebak pada cara lama. Dengan inovasi, tradisi bisa terus berkembang tanpa kehilangan jati diri,” tambah Nanang.
Inovasi ini juga telah dipublikasikan melalui berbagai kanal media sosial dan YouTube resmi UHW Perbanas, sehingga semakin banyak pelaku UMKM yang terinspirasi untuk mengadopsi teknologi dalam proses kreatif mereka.
Dengan dukungan berkelanjutan dari perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, Batik Tulis UKM Melati kini memiliki peluang besar memperluas pasar dan memperkuat posisi sebagai batik khas Surabaya yang mampu beradaptasi dengan zaman.
Inovasi 3D printing ini menjadi bukti bahwa warisan budaya dan teknologi dapat berpadu harmonis, melahirkan karya yang tidak hanya indah tetapi juga berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.[rea]






