Gresik (beritajatim.com) – Bappeda (Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah) Gresik menggandeng UGM (Universitas Gadjah Mada) mengembangkan potensi Wisata Pulau Bawean. Berdasarkan hasil penelitian, dua lembaga ini sepakat untuk mengembangkan konsep geopark.
Kabid Infrastruktur dan Kewilayahan Bappeda Kabupaten Gresik Dian Palupi Chrisdiani menuturkan, konsep geopark dipilih dengan sejumlah pertimbangan. Seperti adanya destinasi wisata alam dan budaya di Pulau Bawean.
“Kondisi alam geologis Pulau Bawean dan unsur ekosistem serta budayanya, Pulau Bawean sangat mungkin dikembangkan sebagai wisata berbasis geopark,” tuturnya, Jumat (3/2/2023).
Menurut Dian, terdapat beberapa kerangka tahapan konsep dasar untuk mengembangkan Pulau Bawean sebagai wisata geopark. Konsep tersebut yaitu konservasi flora, fauna, dan budaya yang tidak merusak.
Selain itu, ada potensi pembangunan ekonomi kreatif, serta pengembangan masyarakat melalui pendidikan, warisan geologi dan budaya.
“Nantinya tahapan menuju wisata geopark butuh beberapa pengembangan dari dasar mulai dari keragaman geologi dan warisan geologi (geodiversity), keragaman hayati (biodiversity), keragaman budaya (culture diversity), kapasitas sumber daya manusia, infrastruktur, dan regulasi kebijakan,” imbuhnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Gresik”]
Dia menjelaskan dari hasil penelitian, ditemukan beberapa formasi batuan di jajaran pegunungan dan bebatuan di Pulau Bawean. Seperti formasi batu gamping di Desa Gelam, formasi batu pasir di Desa Kebuntelukdalam serta formasi gunung api Desa Balik Terus.
“Selain di atas juga ditemukan endapan aluvium, endapan ini merupakan formasi termuda yang ada di Pulau Bawean. Endapan tersusun dari endapan kerakal, kerikil, pasir, lumpur, dan lempung. Persebarannya relatif di daerah pesisir pantai,” paparnya.
Adapun pemetaan formasi itu identifikasi wisata alam berbasis aspek kebumian (geodiversity) meliputi, Pantai Gili Noko, Pantai Noko Selayar, Pantai Jembengan, Pantai Tanjung Ge’en, Pantai Ria, Pantai Mayangkara, Mata Air Panas Kepuhlegundi, Pantai Kerrong, Danau Kastoba, Air Terjun Laccar, Puncak Gunung Soka, Air Terjun Murtalajer, Air Terjun Kastoba (Grojogan Candi), Jherat Lanjeng (Makam Panjang), Mata Air Panas Sawahmulya. Sedangkan untuk wisata berbasis keanekaregaman hayati/biodiversity meliputi, Penangkaran Rusa, Mangrove Daun, dan Mangrove Kebuntelukdalam.
“Setelah dilakukan penelitian selama 4 bulan wisata di Pulau Bawean sudah dinilai baik, dan sangat baik. Kendati demikian kami masih punya pekerjaan rumah untuk menyusun roadmap berupa masterplan geopark,” pungkas Dian. [dny/beq]






