Banyuwangi (beritajatim.com) – Salah satu seni tradisional yang masih lestari di masyarakat suku Osing, Banyuwangi adalah Pencak Sumping. Seni bela diri ini masih subur dilakukan di Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah.
Awalnya, seni tradisi yang mengunggulkan ketangkasan dengan beragam jurus ini menjadi salah satu pakem ilmu bagi warga desa setempat untuk membela diri. Namun, kini hal itu telah menjadi bagian tradisi yang bisa ditampilkan dalam sebuah perayaan setiap hari raya Idul Adha.
Dalam atraksinya, Pencak Sumping menunjukkan antara dua pesilat yang saling serang dan hindar. Biasanya, peragaan jurus ini dilakukan dengan tangan kosong maupun memakai senjata. Tak lupa, musik tradisional turut mengiringi pergulatan antarpesilat. Nah, di sinilah perbedaan seni bela diri itu bermula.
Pada akhir pertunjukan, bagi pesilat yang menang berhak memasukkan makanan sumping ke lawannya. Sumping adalah jajanan pasar berbahan tepung beras dan pisang yang dibungkus dengan daun pisang. Di daerah lain, makanan ini disebut nagasari.
“Pencak Sumping merupakan salah satu tradisi yang sangat kental di sini. Kami ingin menjadikan Pencak Sumping sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari para siswa di desa ini,” kata Kepala Desa Tamansuruh, Teguh Eko Rahadi.
Bahkan, Teguh bertekad untuk mengusahakan agar Pencak Sumping bisa menjadi bagian dari ekstrakulikuler di sekolah. Hal ini agar lebih membudayakan dan bagian dari melestarikan warisan para pendahulunya.
“Kami telah berkoordinasi dengan Satkordik (Satuan Koordinator Pendidikan) Kecamatan Glagah agar nantinya sekolah-sekolah di wilayah Glagah akan menerapkan ekstrakurikuler Pencak Sumping,” tambah Teguh.
Pencak Sumping di Desa Tamansuruh, nantinya akan menjadi rangkaian Festival Sepekan Tamansuruh. Selain itu, ada beragam acara yang mengisi dalam kegiatan kali ini. Di antaranya, menyajikan pertunjukan angklung caruk, mocoan lontar Yusuf, pameran seni rupa dan UMKM, dan workshop seni rupa. (rin/kun)
BACA JUGA:






